
Pernahkah Anda membayangkan betapa syahdunya suasana di dalam Masjid Nabawi? Di tengah jutaan manusia dari berbagai belahan dunia, tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara kajian agama Islam yang disampaikan dalam… Bahasa Indonesia!
MasyaAllah, pemandangan ini bukanlah hal asing, terutama jika Anda melintas di sekitar area Pintu 19 (Badr Gate) Masjid Nabawi. Kehadiran kajian berbahasa Indonesia di sana bukan sekadar fasilitas terjemahan biasa. Pemerintah Arab Saudi sangat ketat dalam menyeleksi siapa saja yang boleh duduk di kursi pengajar Masjid Nabawi. Syaratnya luar biasa berat: harus hafal Al-Qur’an dan Al Hadits, fasih berbahasa Arab, punya rekam jejak akademik yang sempurna, dan pemahaman agama yang lurus.
Hebatnya, ada tiga putra terbaik bangsa Indonesia yang berhasil melewati seleksi super ketat tersebut dan diakui kapasitas keilmuannya di level dunia. Ketiganya sama-sama menyelesaikan pendidikan dari S1 hingga S3 (Doktoral) di Universitas Islam Madinah dengan nilai Mumtaz (Cum Laude/Sempurna).
Siapa sajakah mereka dan bagaimana kisah inspiratif perjalanan mereka? Yuk, kita kenalan lebih dekat.
1. Ustadz Dr. Ariful Bahri, Lc., M.A.: Sang Penjaga Setia Pintu 19
Bagi jemaah haji dan umrah Indonesia beberapa tahun belakangan ini, wajah Ustadz Ariful Bahri pasti sudah sangat familiar. Beliau adalah penceramah resmi yang saat ini aktif mengisi kajian rutin setiap hari di Masjid Nabawi sejak tahun 2019.
Dari Riau Menuju Madinah Lahir dan besar di daerah Kampar, Riau, kisah masa muda Ustadz Ariful Bahri sangat inspiratif. Saat duduk di bangku kelas 3 SMP (MTs), ia rela keluar dan mengulang sekolah dari kelas 1 demi bisa masuk ke sebuah pondok pesantren gratis di kampungnya. Menariknya, tanpa adanya guru atau program hafalan khusus di pesantren tersebut, beliau berhasil menghafal Al-Qur’an 30 juz secara otodidak! Berkat prestasinya itu, pihak yayasan memberikannya hadiah umrah. Perjalanan umrah inilah yang membuka jalannya mendaftar ke Universitas Islam Madinah hingga akhirnya meraih gelar Doktor bidang Akidah pada tahun 2023.
Dedikasi Tanpa Libur Satu hal yang paling bikin kagum dari Ustadz Ariful Bahri adalah dedikasinya yang luar biasa. Kajiannya di Masjid Nabawi seolah tidak mengenal kata libur, bahkan di hari raya sekalipun. Pernah suatu ketika, beliau memaksakan diri berangkat mengajar dari rumahnya yang berjarak 7 kilometer ke masjid, padahal saat itu tubuhnya sedang menggigil demam.
Materi yang beliau sampaikan sangat relatable dan menolong jemaah. Saat musim haji, beliau fokus mengajarkan tata cara (manasik) haji dan umrah, sehingga banyak jemaah Indonesia yang awalnya kebingungan jadi paham aturan ibadahnya. Saking ramainya jemaah yang antusias mendengarkan beliau, petugas keamanan masjid (askar) sering kali harus turun tangan merapikan barisan jemaah yang meluber hingga ke jalan keluar masjid!
2. Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc., M.A.: Dari Anak Teknik UGM Menjadi Pakar Aqidah Kelas Doktoral
Sebelum era Ustadz Ariful Bahri, kursi pengajar berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi diisi oleh Ustadz Firanda Andirja (periode 2012–2020). Beliau adalah sosok penceramah kondang yang wajah dan suaranya sudah sangat akrab di telinga pendengar Radio Rodja dan penonton kajian online di Indonesia.
Anak Teknik yang Banting Setir Latar belakang Ustadz Firanda sangat unik. Lahir di Surabaya dari keluarga berdarah Bugis-Jawa, beliau justru tumbuh besar di ujung timur Indonesia, tepatnya di Sorong, Papua. Otaknya sangat cemerlang. Buktinya, selepas SMA beliau diterima masuk ke jurusan eksakta bergengsi, Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), lewat jalur tanpa tes!
Namun, setelah setahun kuliah di UGM, panggilan jiwanya untuk mendalami agama Islam jauh lebih kuat. Ia mengambil keputusan berani: meninggalkan bangku kuliah teknik, masuk ke pondok pesantren, dan akhirnya terbang ke Madinah. Di Universitas Islam Madinah, kecerdasan analitisnya benar-benar terbukti. Beliau lulus S3 dengan predikat Summa Cum Laude.
Warisan Buku dan Karya Tulis Jika Ustadz Ariful Bahri dikenal lewat interaksi langsung di masjid, Ustadz Firanda Andirja mewariskan ilmunya lewat tulisan. Beliau adalah penulis yang luar biasa produktif. Puluhan buku tebal telah ia lahirkan, mulai dari buku panduan bekal haji, tafsir Al-Qur’an (Tafsir At-Tasysir), hingga buku-buku yang membahas manajemen rumah tangga islami. Tulisan-tulisannya sangat terstruktur dan ilmiah, tapi tetap enak dibaca oleh orang awam. Tak heran jika buku-bukunya sering menjadi referensi utama bagi umat Islam di Indonesia saat ini.
3. Ustadz DR. Abdullah Roy, M.A.: Pelopor Dakwah Digital Zaman Now
Nama ketiga adalah Ustadz Abdullah Roy, yang juga pernah menjadi pengajar resmi di Masjid Nabawi pada kurun waktu 2013 hingga 2017. Latar belakangnya membuktikan bahwa siapa saja, dari sekolah mana pun, bisa sukses mendalami ilmu agama jika punya tekad yang kuat.
Lulusan SMA Negeri yang Mendunia Pemilik nama asli Roy Grafika Penataran ini lahir di Bantul, Yogyakarta. Berbeda dengan stereotip ulama yang biasanya nyantri sejak kecil, Ustadz Abdullah Roy menghabiskan masa sekolahnya di sekolah umum negeri, bahkan lulus dari SMA Negeri 1 Yogyakarta (salah satu SMA paling favorit di Jogja). Lulus SMA, barulah beliau masuk pesantren Al Furqon Gresik sebelum akhirnya diterima di Universitas Islam Madinah.
Sadar bahwa basic bahasa Arabnya dari sekolah umum belum sekencang lulusan pesantren timur tengah, beliau dengan rendah hati mengambil kelas persiapan bahasa (Syu’batul Lughah) selama setahun di Madinah sebelum masuk kuliah S1. Hasilnya? Sama seperti dua rekannya, beliau menuntaskan pendidikan S3-nya dengan predikat memuaskan (Mumtaz).
Revolusi Belajar Agama lewat WhatsApp (HSI) Kontribusi terbesar Ustadz Abdullah Roy bagi umat Islam di Indonesia (dan diaspora di seluruh dunia) adalah inovasinya di bidang dakwah digital. Beliau mendirikan Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.
Ini bukan sekadar grup chat biasa, melainkan sebuah “sekolah virtual” raksasa berjenjang yang memanfaatkan aplikasi WhatsApp dan website. Melalui HSI, beliau menyusun kurikulum akidah level universitas menjadi materi audio singkat yang gampang dipahami orang awam. Hasilnya sangat luar biasa; ratusan ribu orang dari berbagai profesi mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga pekerja kantoran bisa belajar agama secara gratis dan terstruktur dari smartphone mereka. Beliau membuktikan bahwa ilmu agama yang mendalam tidak hanya milik mereka yang bisa terbang ke Madinah, tapi bisa diakses oleh siapa saja di ruang tamu rumah mereka.
Kesimpulan
Ketiga ustadz ini – Ustadz Ariful Bahri, Ustadz Firanda Andirja, dan Ustadz Abdullah Roy – adalah bukti nyata kualitas intelektual umat Islam Indonesia di mata dunia. Dengan gaya dan jalan dakwahnya masing-masing (ada yang fokus mengajar langsung, menulis buku, hingga membangun platform digital), ketiganya saling melengkapi dalam membimbing umat.
Bagi Anda yang berencana berangkat ibadah ke Tanah Suci, jangan lewatkan kesempatan berharga ini. Sempatkanlah melangkah ke Pintu 19 Masjid Nabawi setelah shalat Maghrib, duduklah bersama ratusan saudara setanah air lainnya, dan rasakan nikmatnya mereguk ilmu agama langsung di kota Nabi.