
Beberapa hari setelah seseorang pulang dari Tanah Suci, biasanya ada tanda-tanda yang sulit disembunyikan. Ada kurma, cokelat, kacang Arab, sajadah, parfum, atau berbagai macam buah tangan yang tiba di rumah tetangga dan kerabat. Kadang disertai kalimat sederhana, “Ini oleh-oleh dari Makkah.”
Sebenarnya, kalimat itu sudah cukup menjadi sebuah pengumuman kecil: saya baru saja umroh.
Di tengah masyarakat Indonesia yang akrab dengan budaya berbagi oleh-oleh, perjalanan umroh memang hampir mustahil benar-benar menjadi rahasia. Ada keluarga yang mengantar ke bandara, tetangga yang mengetahui keberangkatan, teman yang mendoakan, grup WhatsApp yang menerima ucapan selamat, sampai buah tangan yang dibagikan setelah kepulangan.
Lalu muncul pertanyaan menarik: pergi umroh sebaiknya bilang-bilang atau diam-diam saja?
Persoalannya Bukan Sekadar “Diketahui”
Pertanyaan ini sebenarnya tidak sesederhana memilih antara “mengumumkan” atau “menyembunyikan”. Sebab, diketahui orang lain dan ingin diketahui orang lain adalah dua hal yang berbeda.
Seseorang bisa saja pergi umroh lalu diketahui banyak orang karena memang perjalanan itu tidak mungkin sepenuhnya disembunyikan. Namun, ada pula orang yang sejak awal sengaja membangun perhatian: menceritakan keberangkatan berulang kali, menampilkan kemewahan perjalanan, atau terus-menerus menunjukkan aktivitasnya di Tanah Suci.
Secara lahiriah, keduanya sama-sama terlihat “memberi tahu”. Tetapi yang membedakan adalah sesuatu yang tidak selalu bisa dilihat oleh manusia: niat di dalam hati.
Memberi Tahu Tidak Otomatis Berarti Pamer
Di sinilah kita perlu berhati-hati agar tidak mudah menghakimi.
Orang yang mengunggah foto di depan Ka’bah belum tentu sedang riya. Orang yang memberi tahu teman bahwa ia akan berangkat umroh juga belum tentu sedang mencari pujian. Bisa jadi ia hanya berbagi kabar, meminta doa, atau sedang berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terdekat.
Sebaliknya, seseorang yang tidak pernah mengunggah foto umroh pun belum tentu otomatis lebih ikhlas. Bisa saja tidak ada foto yang dipublikasikan, tetapi di dalam hati justru ada keinginan besar agar orang lain tetap mengetahui bahwa dirinya baru saja beribadah ke Tanah Suci.
Karena itu, masalahnya tidak cukup dinilai dari apa yang terlihat di media sosial.
Bahkan “Diam-Diam” Bisa Menjadi Ujian Ego
Ada sebuah paradoks yang menarik.
Kadang seseorang begitu takut dianggap pamer sehingga berkata, “Saya tidak mau orang tahu kalau saya umroh.”
Sikap ini pada dasarnya bisa saja sangat baik. Namun, ada satu jebakan yang juga perlu diwaspadai: jangan sampai seseorang justru merasa bangga karena dirinya dianggap sangat ikhlas dan tidak suka pamer.
“Lihat, saya umroh tapi tidak pernah cerita kepada siapa pun.”
Kalimat semacam itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa persoalannya belum tentu selesai. Sebab manusia bukan hanya bisa mencari pujian karena amal yang ditampilkan, tetapi juga bisa merasa bangga karena dianggap tidak menampilkan amal.
Pada akhirnya, tantangan keikhlasan bukan sekadar menyembunyikan perjalanan umroh, tetapi bagaimana hati tetap bergantung kepada penilaian Allah, bukan penilaian manusia.
Oleh-Oleh, “Kode” Sosial dari Tanah Suci
Menariknya, masyarakat Indonesia mempunyai bahasa sosial yang unik: oleh-oleh umroh.
Tidak perlu membuat pengumuman besar-besaran. Cukup sebuah kotak kurma dikirim ke rumah tetangga. Sekantong cokelat dibagikan kepada teman kantor. Atau beberapa bungkus kacang Arab diberikan kepada kerabat.
Pesannya langsung terbaca:
“Saya baru pulang dari Tanah Suci.”
Oleh-oleh dalam konteks ini bukan hanya makanan atau barang. Ia menjadi semacam kode sosial bahwa seseorang baru saja melakukan perjalanan jauh, khususnya perjalanan ibadah.
Fenomena ini sangat menarik karena antara niat berbagi kebahagiaan dan munculnya identitas sosial sering kali berjalan beriringan.
Membeli Banyak Oleh-Oleh, Apakah Berarti Pamer?
Tentu tidak otomatis.
Banyak orang membawa pulang oleh-oleh karena memang ingin berbagi. Ada rasa syukur setelah bisa mengunjungi Tanah Suci, lalu rasa syukur itu diwujudkan dengan memberikan sesuatu kepada keluarga, sahabat, tetangga, guru, kolega, dan orang-orang yang selama ini membantu.
Dalam budaya Indonesia, memberi buah tangan juga merupakan bagian dari menjaga hubungan sosial. Seseorang mungkin merasa kurang enak hati jika pulang dari perjalanan jauh tanpa membawa apa pun.
Karena itu, tidak tepat jika setiap jamaah yang membeli banyak oleh-oleh langsung dicurigai sedang pamer. Yang perlu diperiksa bukan jumlah oleh-olehnya, melainkan apa yang ada di balik pemberian itu.
Ada Perbedaan antara Berbagi Kebahagiaan dan Membangun Citra
Seseorang bisa berkata, “Alhamdulillah, saya diberi kesempatan Allah untuk umroh. Ini ada sedikit oleh-oleh untuk Anda.”
Kalimat seperti itu bisa lahir dari rasa syukur dan kasih sayang.
Tetapi situasinya dapat berubah ketika pemberian tersebut sengaja digunakan untuk menunjukkan status, kekayaan, atau kesalehan di hadapan orang lain.
Perbedaan itu kadang sangat tipis.
Barang yang sama, jumlah yang sama, bahkan kalimat yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda tergantung apa yang ada di dalam hati orang yang mengerjakannya.
Maka, daripada sibuk menilai apakah orang lain pamer atau tidak, barangkali lebih baik kita bertanya kepada diri sendiri: untuk siapa sebenarnya semua ini dilakukan?
Kapan Sebaiknya Memberi Tahu?
Tidak semua informasi tentang umroh harus disembunyikan.
Ada kondisi ketika memberi tahu memang diperlukan. Keluarga tentu perlu mengetahui. Orang-orang yang berkepentingan dengan keberangkatan juga perlu diberi kabar. Bahkan memberi tahu orang terdekat bisa menjadi bentuk komunikasi yang wajar.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika pemberitahuan berubah menjadi pertunjukan.
Menceritakan pengalaman umroh untuk berbagi pelajaran tentu berbeda dengan menceritakan kemewahan hotel, fasilitas, biaya, atau berbagai pencapaian selama perjalanan dengan tujuan mendapatkan kekaguman.
Sekali lagi, bukan sekadar “apa yang disampaikan”, tetapi mengapa kita merasa perlu menyampaikannya.
Mungkin Pertanyaan yang Lebih Tepat
Karena itu, mungkin pertanyaan “perlu bilang-bilang atau diam-diam?” bukanlah pertanyaan yang paling tepat.
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
“Bagaimana keadaan hati kita ketika orang lain mengetahui bahwa kita umroh, dan bagaimana keadaan hati kita ketika tidak ada seorang pun yang mengetahuinya?”
Apakah kita kecewa ketika tidak mendapat ucapan selamat?
Apakah kita senang ketika orang lain kagum?
Apakah kita tetap bahagia ketika amal itu tidak diketahui siapa pun?
Atau justru kita merasa perlu memastikan bahwa orang lain tahu bahwa kita baru saja beribadah ke Tanah Suci?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang mungkin lebih layak direnungkan.
Yang Dibawa Pulang Bukan Hanya Oleh-Oleh
Pada akhirnya, perjalanan umroh bukan sekadar tentang foto di Tanah Suci, koper yang penuh oleh-oleh, atau cerita perjalanan yang menarik.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk dibawa pulang: perubahan diri.
Setelah kembali, apakah shalat menjadi lebih terjaga? Apakah hati menjadi lebih lembut? Apakah hubungan dengan keluarga dan tetangga menjadi lebih baik? Apakah seseorang menjadi lebih rendah hati?
Sebab bisa saja oleh-oleh dari Makkah memenuhi satu ruangan, tetapi perubahan akhlak tidak terlihat sama sekali.
Sebaliknya, bisa jadi seseorang pulang dengan membawa sedikit oleh-oleh, hampir tidak pernah bercerita tentang perjalanannya, tetapi kehidupannya perlahan menjadi lebih baik.
Biarlah Allah yang Menilai
Mungkin itulah alasan mengapa persoalan “bilang-bilang atau diam-diam” tidak pernah cukup dijawab hanya dengan melihat penampilan luar.
Manusia melihat foto. Manusia melihat oleh-oleh. Manusia mendengar cerita. Tetapi hanya Allah yang mengetahui isi hati.
Kita boleh memberi kabar. Kita boleh berbagi kebahagiaan. Kita boleh membawa pulang buah tangan untuk orang-orang yang kita cintai.
Namun, ada satu pertanyaan yang seharusnya tetap kita simpan dalam hati:
Ketika semua orang akhirnya tahu bahwa kita pernah ke Tanah Suci, apakah yang sebenarnya paling kita harapkan—pujian manusia, atau penerimaan dari Allah?
Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukanlah berapa banyak orang yang tahu bahwa kita pernah pergi umroh, tetapi apakah Allah menerima ibadah kita ketika kita pulang.
Lalu, TOKO HAMIDAH Bersikap Bagaimana?
Melihat fenomena ini dari dekat, TOKO HAMIDAH memilih untuk tidak menghakimi. Kepada yang memilih menyembunyikan amal umrohnya, kami mendoakan semoga Allah menerima ibadahnya dan memberinya keberkahan. Kepada yang membagikan oleh-oleh dengan niat berbagi kebahagiaan, menjaga silaturahmi, menunjukkan perhatian, atau memotivasi orang lain untuk ikut beribadah umroh, kami juga mendoakan semoga Allah memberkahi niat dan kebaikannya. Sebab, yang paling mengetahui isi hati seseorang hanyalah Allah. Jadi, diam-diam ataupun berbagi, semoga sama-sama membawa keberkahan. Tidak ada masalah, bukan? Yang penting para jemaah umroh beli oleh-olehnya di TOKO HAMIDAH, yaaa 😁😁😁