
Banyak biro perjalanan umroh saat ini mengklaim diri mereka sebagai penyelenggara “umroh sesuai sunnah”, atau yang masyarakat muslim sering sebut sebagai ‘travel sunnah’. Namun, apa sebenarnya makna dari ungkapan ini?
Istilah “sesuai sunnah” bukanlah sekadar jargon pemasaran, melainkan sebuah komitmen mendalam terhadap tuntunan ajaran Rasulullah Muhammad صلّى اللهُ عليهِ وسلّم. Sunnah sendiri merujuk pada segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan beliau yang menjadi pedoman hidup umat Islam.
Pada umumnya, frasa “umroh sesuai sunnah” muncul di kalangan sebagian masyarakat muslim karena dilatarbelakangi oleh 3 hal berikut:
1. Fiqih Berbasis Dalil yang Kuat (Tidak Fanatik Mazhab)
Bimbingan muthawwif (pembimbing umroh) dalam pelaksanaan ibadah tidak terikat secara kaku pada satu mazhab fiqih tertentu. Para pembimbing berpedoman pada dalil-dalil kuat dari Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa harus terpaku pada salah satu pendapat dari empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) jika ada pendapat lain yang dianggap lebih kuat secara dalil. Dalam lingkungan ormas Muhammadiyah, metode ini dikenal dengan Fiqih Tarjih, yaitu memilih pendapat yang kuat dari 4 mahdzab yang populer.
Meski demikian, penting dipahami bahwa beribadah dengan komitmen pada salah satu mazhab fiqih tidaklah tercela. Ulama besar dari Arab Saudi yang bermahdzab Hambali pun berpendapat bahwa bagi orang awam, mengikuti satu mazhab gurunya adalah sebuah kebolehan. Hal yang sangat ditekankan dan dihindari di sini adalah fanatik buta pada satu mahdzab tanpa melihat peluang kebenaran dari dalil mahdzab lain. Jika suatu pendapat ternyata bertentangan dengan dalil sahih, seorang muslim dianjurkan mengikuti dalil tersebut, selaras dengan perkataan Imam Syafi’i: “Jika kalian menemukan hadits sahih, maka itulah mazhabku.” (Bacaan lebih lanjut: https://muslim.or.id/59312-haruskah-aku-bermazhab.html).
2. Pemurnian Ibadah dari Bid’ah, Khurafat, dan Takhayul
Hal kedua yang melatarbelakangi ungkapan ‘travel sunnah‘ adalah komitmen yang kuat untuk menghindari bid’ah, khurafat, dan takhayul pada prosesi ibadah umroh dan haji. Khurafat adalah kepercayaan atau cerita fiktif yang tidak memiliki dasar dalam syariat, yang seringkali dicampuradukkan dengan hal-hal mistis atau gaib. Contohnya adalah meyakini bahwa suatu tempat atau benda di tanah suci memiliki kekuatan tertentu, atau melakukan ritual tambahan yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad صلّى اللهُ عليهِ وسلّم.
Pernahkah Anda mendengar ada jamaah asal Indonesia yang membawa benang kain kiswah penutup Ka’bah, atau bahkan pasir gurun di Mina untuk dibawa pulang karena meyakini keberkahannya? Atau, pernah dengar jemaah mengusap dinding Ka’bah dan Maqam Ibrahim dan menempelkan perut ke seluruh dinding Ka’bah, kain Kiswah, atau dinding kaca Maqam Ibrahim untuk mencari berkah (tabarruk). Padahal, yang disyariatkan untuk diusap atau dicium hanyalah Hajar Aswad, dan Rukun Yamani (itupun hanya diusap, tidak dicium). Nah, itulah salah satu contoh asumsi keyakinan keliru tanpa dalil yang shahih. Umroh “sesuai sunnah” menuntut pelaksanaan ibadah yang murni dari segala bentuk asumsi personal semacam itu.
3. Perhatian Ekstra pada Agama dan Pemahaman Syariat Jamaah
Alasan ketiga adalah dedikasi travel dan para pembimbingnya yang sangat memperhatikan aspek syariat dan kondisi ‘agama’ jamaahnya, bukan sekadar urusan logistik semata. Karena sangat perhatiannya, ada travel umroh yang tidak segan-segan menegur jemaahnya yang merokok dan melakukan hal sia-sia bahkan perbuatan dosa di tanah haram. Travel sunnah bukanlah travel yang ‘asal terima uang jamaah’ lalu sekadar memberikan pelayanan dari sisi duniawi saja seperti tiket pesawat, hotel bintang lima, atau makanan yang lezat. Mereka memposisikan diri sebagai penjaga amanah ibadah; memastikan shalat para jamaah tertib, aqidahnya lurus, rukun dan wajib umrohnya sah, serta memberikan bimbingan spiritual yang intensif agar jamaah tidak hanya pulang membawa oleh-oleh, tetapi juga membawa keimanan yang meningkat dan umroh yang mabrur.
Maksudnya ‘Sunnah’ Hanya Kerjakan Yang Dianjurkan Saja?
Pembahasan frasa ‘Travel Sunnah’ tidak jauh berbeda dengan frasa ‘Ulama Sunnah’ atau ‘Ustadz Sunnah’ yang dalam dekade terakhir sering menjadi polemik di media sosial. Meskipun ada banyak makna sunnah dari berbagai disiplin ilmu Islam, makna sunnah yang menempel pada kata travel tidaklah berarti sunnah dalam ilmu fiqih (yakni: ‘bila dikerjakan dapat pahala, bila ditinggalkan tidak berdosa’). (bacaan lebih lanjut: https://muslim.or.id/19111-makna-as-sunnah.html)
Secara bahasa, kata “sunnah” berarti jalan atau metode. Sunnah adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad صلّى اللهُ عليهِ وسلّم. Adapun frasa “Ahlussunnah wal Jama’ah” adalah sebutan bagi umat Islam yang beragama berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, serta pemahaman dari generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in (generasi salaf).
Dalam sajarah, banyak ulama terdahulu yang juga menyandarkan diri pada istilah “sunnah”. Imam Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Wajib atas kalian berpegang teguh pada bekas-bekas para sahabat, serta jalan mereka.” Ada pula perkataan Imam Adz Dzahabi:
ويحق لكل صاحب سنة أن يفخر بما تركه علماء السنة من تراث عظيم حوى منهج أهل الحق
“Setiap pengikut sunnah berhak bangga dengan warisan agung yang ditinggalkan para ULAMA SUNNAH, yang memuat metodologi ahlul haq (orang-orang di jalan kebenaran).” (Al ‘Arsy, 1/12).
Ide umroh yang berfokus pada dalil shahih dan bebas dari ritual tambahan ini sangat selaras dengan semangat gerakan pembaharuan dalam Islam, seperti ormas Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis, dan semua kaum muslimin yang menisbathkan diri dengan manhaj salaf. Oleh karena itu, memilih biro travel bukanlah sekadar urusan mencari fasilitas duniawi yang mewah, melainkan memastikan metodologi ibadah kita dibimbing agar selaras dengan warisan agung ajaran Nabi tersebut.
Lalu, Travel Mana Saja yang Sesuai Sunnah?
Ketika masuk pada bab penyebutan nama institusi mana yang ‘nyunnah’, penulis tidak bermaksud membatasi jumlah travel yang masuk kategori ini. Sebagaimana TOKO HAMIDAH menyatakan diri sebagai Toko Muslim, bukan berarti selain toko tersebut adalah toko non-muslim.
Di Yogyakarta (Jogja), ada 3 biro travel besar yang dikenal memiliki reputasi sangat baik dalam menyelenggarakan umroh sesuai sunnah, yaitu Batik Travel, Hasuna Tour, dan Travel Nur Ramadhan. Ketiganya direkomendasikan karena memiliki kesamaan visi: dikelola oleh individu/yayasan dengan pendidikan agama kuat, memiliki mutawwif kompeten, berkomitmen ketat pada fiqih umroh, dan punya rekam jejak melayani ribuan jamaah.
Berikut adalah profil masing-masing travel:
1. Batik Travel (PT Baitullah Tiga Kharisma)
- Kantor: Jalan Kaliurang Km 5,5 Gg Pandega Mandala No. 23, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta.
- Latar Belakang Pengelola: Didirikan dan dipimpin oleh Bpk. Wasis Utomo, sosok yang dikenal berkomitmen kuat dalam menyebarkan ajaran Islam yang lurus. Travel ini tidak hanya berfokus pada bisnis, tetapi memiliki misi dakwah yang kental dan berafiliasi dengan beberapa media dakwah serta pusat kajian ilmu diniyyah.
- Pembimbing: Seringkali diisi oleh ustadz-ustadz dengan pemahaman mendalam tentang Al-Qur’an dan Sunnah, seperti Ustadz Erlan Iskandar, Ustadz Yulian Purnama, Ustadz Ristyan Ragil, hingga Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc., M.Ag.
- Rekam Jejak Jamaah: Telah memiliki jam terbang yang tinggi dan dipercaya memberangkatkan banyak rombongan jamaah yang memang mencari kemurnian ibadah dan bimbingan agama yang ketat.
- Keunggulan: Pelayanan rapi, transparan, dan fokus pada bimbingan ibadah intensif. Mereka menekankan manasik detail agar rukun dan wajib umroh dipahami sempurna. Salah satu program unggulannya adalah perjalanan umroh dengan tema kajian ilmu di tanah suci bersama asatidzah lulusan Universitas Islam Madinah.
2. Hasuna Tour
- Kantor: Jalan Monjali No. 129, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta.
- Latar Belakang Pengelola: Telah eksis sejak 1997, didirikan oleh Alm. K.H. Sunardi Syahuri (tokoh ulama Muhammadiyah) dan kini dipimpin H. Ahmad Fuad. Nama “Hasuna” (dari kata hasan/baik) mencerminkan komitmen pelayanan terbaik dengan fondasi nilai-nilai Islam yang kokoh.
- Pembimbing: Memiliki tim mutawwif mumpuni seperti Ustadz Ahmad Khudori, Lc., dan Ustadz Rosyid Abu Rosyidah, S.Ag., M.Ag. Mereka juga menyediakan pendamping dari kalangan tenaga medis, seperti dr. Veby Novy Yendri, Sp.T.H.T.K.L. dan dr. Probosuseno, Sp.PD, guna menjamin kesehatan jamaah.
- Rekam Jejak Jamaah: Mengklaim telah melayani lebih dari 25.000 jamaah selama 27 tahun terakhir, menjadikannya salah satu biro umroh paling terpercaya dan tertua di DIY dan Jawa Tengah.
- Keunggulan: Keberlanjutan dan kematangan sistem pelayanannya. Dengan sejarah panjang, Hasuna menawarkan manasik yang mendalam, fasilitas terjamin, dan pendampingan yang sangat ramah, khususnya bagi jamaah lanjut usia (lansia).
3. Travel Nur Ramadhan Wisata
- Kantor: Grha Nur Ramadhan Jl. Magelang, KM 8, Mlati Glondong, Sendangadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman.
- Latar Belakang Pengelola: Mengantongi izin resmi Kemenag sejak 2002. Dipimpin oleh Direktur Ustadz Mifdhol Abdurrahman, Lc, MHI. Nur Ramadhan berafiliasi kuat dengan pondok pesantren penghafal Al-Qur’an, memposisikan travel ini sebagai amal usaha untuk mendukung kegiatan dakwah dan pendidikan.
- Pembimbing: Daftar pembimbing panjang dan kredibel, termasuk ulama-ulama besar seperti K.H. Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc., yang menjadi jaminan bahwa bimbingan ibadah sangat berlandaskan pemahaman Islam yang sahih.
- Rekam Jejak Jamaah: Memiliki rekam jejak fantastis, dengan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi. Salah satu rekornya adalah sukses memberangkatkan 388 jamaah haji khusus hanya dalam satu tahun.
- Keunggulan: Komitmen pada keberkahan sebagai moto utama. Integrasi bisnis umroh dengan amal usaha pondok pesantren memastikan bahwa setiap keuntungan travel turut berkontribusi pada pendidikan agama. Ini memberi ketenangan hati bagi jamaah bahwa biaya yang dikeluarkan juga menjadi amal jariyah berdampak sosial.