🍜 10 Restoran Kuliner Asli Indonesia di Makkah & Madinah

restoran indonesia di makkah madinah
Perjalanan ibadah Umrah dan Haji ke Tanah Suci selalu membawa pengalaman spiritual yang luar biasa. Namun, ada satu pengalaman “duniawi” yang hampir pasti dirasakan oleh jutaan jemaah asal Indonesia setiap tahunnya: Homesickness alias kangen berat dengan masakan kampung halaman.

Mari kita jujur. Setelah tiga atau empat hari berturut-turut lidah dan perut kita dibombardir dengan hidangan khas Timur Tengah seperti nasi mandhi yang porsinya raksasa, daging kambing berempah tajam, atau sekadar roti khubz dan ayam panggang pasti ada momen di mana perut tiba-tiba “menolak” diajak kompromi. Dalam situasi lelah setelah tawaf atau sa’i, yang terbayang di pelupuk mata justru semangkuk bakso kuah panas, nasi padang dengan bumbu rendang yang medok, atau sekadar tempe orek dan sambal terasi pedas.

Kabar baiknya, kamu tidak perlu menahan rindu itu sampai pulang ke Tanah Air! Saat ini, ekosistem kuliner diaspora (warga Indonesia yang tinggal di luar negeri) di Arab Saudi sudah sangat maju. Tempat makan khas Nusantara di sana bukan lagi sekadar warung kecil yang tersembunyi di gang sempit. Mereka telah berevolusi menjadi restoran megah, nyaman, viral di media sosial, dan menyajikan rasa otentik yang siap memanjakan lidahmu.

Bagi kamu yang sedang menyusun itinerary atau jadwal perjalanan umrah, panduan wisata kuliner ini wajib kamu simpan. Berikut adalah profil 10 restoran legendaris milik orang Indonesia di Makkah dan Madinah yang siap menyelamatkan perutmu dari kerinduan masakan rumah.

📍 Destinasi Wisata Kuliner Makkah: Makan Cepat, Nikmat, dan Dekat

Ritme ibadah di Makkah terkenal sangat padat dan serba cepat. Waktu transisi antara jam makan, istirahat di hotel, dan mengejar waktu shalat di Masjidil Haram sangatlah sempit. Oleh karena itu, restoran di Makkah didesain untuk pelayanan yang cepat saji namun tetap mengedepankan kualitas rasa tingkat dewa.

1. Damba Resto (Si “Sultan” di Jantung Masjidil Haram)

Jika kamu mencari restoran dengan lokasi paling strategis dan premium di seluruh Makkah, Damba Resto adalah jawabannya.

  • Lokasi: Terletak persis di Zamzam Tower (Abraj Al-Bait) Lantai P4. Hanya butuh jalan kaki 5 menit dari pelataran Masjidil Haram.
  • Profil Singkat: Tahukah kamu? Restoran ini dikelola dengan dukungan investasi langsung dari BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji) Limited. Dulu tempat ini sangat legendaris dengan nama “Bakso Grapari”, lalu di- rebranding menjadi Damba Resto yang lebih modern dan luas.
  • Menu Wajib Coba: Bakso kuah kaldu murni yang rasanya bikin mau nangis saking enaknya, Sop Iga sapi, Ayam Penyet sambal mercon, dan yang paling cepat ludes: Gorengan Bakwan!
  • Bujet: Siapkan sekitar 40 hingga 60 Riyal (SAR) per orang. Harganya wajar mengingat sewa tempat di Zamzam Tower adalah salah satu yang termahal di dunia. Bersiaplah untuk antre panjang terutama sebelum jam shalat!

2. Restoran Indonesia Bagus (Penyelamat Rombongan Ziarah)

Bergeser sedikit dari pusat kota, ada sebuah tempat makan luas yang menjadi surga bagi rombongan city tour.

  • Lokasi: Terletak sekitar 15 kilometer dari Masjidil Haram, dekat dengan situs bersejarah Jabal Tsur.
  • Profil Singkat: Namanya diambil dari sapaan legendaris pedagang Arab yang sering berteriak “Indonesia Bagus! Murah!”. Tempat ini mengusung konsep restoran persinggahan. Karena halamannya sangat luas, bus-bus travel umrah raksasa bisa parkir dengan mudah di sini.
  • Menu Wajib Coba: Sate Madura bumbu kacang kental, Soto Betawi dengan kuah santan yang gurih maksimal, Bakso, dan Ayam Kremes.
  • Bujet: Biasanya menyesuaikan sistem borongan atau pesanan per rombongan travel, namun untuk perorangan tetap ramah di kantong.

3. Denden The Indonesian Cuisine (Jaminan Mutu Anti Zonk)

Takut salah pilih restoran yang rasanya ternyata “Arab banget” dan kurang pas di lidah? Masuklah ke Denden The Indonesian Cuisine.

  • Lokasi: Berada di area komersial Makkah, berjarak sekitar 13 kilometer dari Haram.
  • Profil Singkat: Denden bukanlah warung makan biasa, melainkan bisnis waralaba franchise besar yang sudah memiliki 10 cabang di seluruh penjuru Arab Saudi. Mereka punya sistem dapur terpusat, sehingga rasa masakan di cabang mana pun akan selalu sama enaknya.
  • Menu Wajib Coba: Aneka Nasi Rames khas Nusantara di mana kamu bisa memilih lauk rumahan sesuka hati, aneka olahan mie, dan tentu saja camilan favorit: Risol isi rogout.
  • Bujet: Harga standar restoran kelas menengah yang sangat masuk akal, dengan kebersihan dan kenyamanan tempat setara restoran modern di Jakarta.

4. Restaurant Priarangan (Sensasi Makan di “Warteg” Padang Pasir)

Merindukan nuansa makan yang inklusif, merakyat, dan santai? Priarangan adalah jawabannya.

  • Lokasi: Terdaftar di area Jalan 3866, Makkah.
  • Profil Singkat: Restoran ini sengaja dibangun sebagai antitesis (kebalikan) dari makanan prasmanan hotel yang kadang membosankan. Konsepnya meniru persis gaya Warteg (Warung Tegal) atau Rumah Makan Padang di Indonesia. Lauk pauk dijejerkan rapi di balik etalase kaca.
  • Menu Wajib Coba: Nasi Campur ala warteg! Kamu bisa menunjuk langsung lauk apa yang kamu mau. Ada soto, bakso, tumis sayuran, tempe, tahu, ikan, hingga aneka gorengan yang baru saja diangkat dari wajan penggorengan.
  • Bujet: Tergantung lauk apa yang kamu tunjuk. Sangat bersahabat untuk jemaah yang ingin menghemat uang saku.

5. Restoran Nusantara (Si Viral Kesayangan TikTokers)

Anak muda yang sering scroll TikTok untuk mencari rekomendasi umrah pasti sudah tidak asing dengan nama ini.

  • Lokasi: Kawasan Al-Ka’kiyyah, sekitar 12 kilometer dari batas luar Masjidil Haram.
  • Profil Singkat: Ini adalah contoh restoran milik orang Indonesia yang melek digital. Karena rajin promosi di Instagram dan TikTok, restoran ini selalu diserbu jemaah setiap harinya. Saking suksesnya, mereka kini sudah membuka cabang lintas kota.
  • Menu Wajib Coba: Variasi menunya sangat banyak! Mulai dari Nasi Goreng, aneka Soto dari berbagai daerah di Indonesia, hingga hidangan oriental seperti Capcay, Mie Goreng, dan Kwetiau.
  • Bujet: Sangat bersahabat buat dompet, harganya dipatok rata-rata mulai dari 20 hingga 35 SAR per porsi. Mengenyangkan dan puas!

📍 Destinasi Kuliner Madinah: Surganya Tongkrongan & Wisata Lidah

Jika Makkah terasa terburu-buru, Kota Madinah menawarkan suasana ( vibe ) yang jauh lebih tenang, sejuk, kontemplatif, dan ramah untuk pejalan kaki. Setelah melaksanakan shalat Isya di Masjid Nabawi, inilah waktu yang paling tepat untuk berjalan-jalan santai sambil wisata kuliner ria!

6. The Java Signature / Chef Umar (Makan Serasa Pejabat VVIP)

Ini dia rajanya kuliner Madinah. Kalau kamu ke Madinah tapi belum mampir ke restorannya Abah Umar, rasanya kurang lengkap!

  • Lokasi: Berada di kawasan kaki Gunung Uhud (Sayid Al-Shuhada). Restoran barunya juga segera buka dekat Universitas Islam Madinah.
  • Profil Singkat: Sang pemilik, Chef Umar, adalah mantan kontestan MasterChef Indonesia dengan kisah hidup yang sangat inspiratif. Keahlian memasaknya luar biasa, sampai-sampai restorannya menjadi langganan para menteri, keluarga pejabat tinggi, hingga artis papan atas seperti Raffi Ahmad.
  • Menu Wajib Coba: Nasi Tempong dan Pecel Madiun yang super otentik, Bakso sapi (dagingnya digiling sendiri!), dan yang paling bikin bule Arab ikutan ketagihan: Pisang Goreng Crispy pakai pisang tanduk asli! Asyiknya lagi, kamu bisa custom request (pesan khusus) menu daerahmu jika datang bawa rombongan.
  • Bujet: Mulai dari 25 SAR (misal untuk porsi nasi ayam goreng) hingga 35 SAR. Sebanding dengan rasa kelas bintang lima!

7. Padang Cuisine Bu’yung (Berani Coba Rendang Unta?)

Untuk kamu yang memegang teguh prinsip “Belum makan kalau belum ketemu bumbu Minang”, silakan merapat ke sini.

  • Lokasi: Sangat dekat dengan pekarangan masjid, menempel di sekitar Gerbang Ali Bin Abi Thalib Masjid Nabawi.
  • Profil Singkat: Demi menjaga keaslian rasa, manajemen restoran ini sampai mendatangkan koki kepalanya langsung dari Padang Panjang, Sumatera Barat! Bumbunya medok dan pedasnya pas.
  • Menu Wajib Coba: Tentu saja Rendang, Dendeng Batokok, dan Tunjang (Kikil). Namun, menu paling fenomenalnya adalah Rendang Daging Unta. Ya, kamu tidak salah baca! Daging unta lokal dimasak slow-cook berjam-jam dengan karamelisasi santan Minang. Hasilnya? Empuk, gurih, dan mindblowing!
  • Bujet: Paket nasi plus lauk dijual mulai dari 25 SAR. Sangat terjangkau untuk ukuran lokasi yang nempel dengan gerbang masjid.

8. Sunda Restoran (Surga Pecinta Kuliner Hemat)

Inflasi dan biaya hidup di sekitar wilayah ring satu Masjid Nabawi cukup tinggi. Tapi tenang, ada Sunda Restoran yang siap mengamankan uang sakumu.

  • Lokasi: Di kawasan Bada’ah, posisinya berhadapan secara diagonal dengan Gerbang Umar Bin Khattab Masjid Nabawi (hanya 1,4 km jalan kaki).
  • Profil Singkat: Restoran ini pantang sepi pengunjung 24 jam. Rahasianya? Mereka menerapkan strategi harga yang sangat “gila” dan tidak masuk akal murahnya. Tempat ini sering dijadikan meeting point (titik kumpul) oleh jemaah asal Indonesia.
  • Menu Wajib Coba: Nasi Goreng, Mie Ayam, Soto Berkuah, dan aneka jajanan pasar.
  • Bujet: Siapkan uang koin Riyal-mu! Teh panas, sari asam, atau kopi hangat hanya dijual seharga 2 SAR (sekitar Rp 8.600)! Sedangkan harga makanan beratnya dimulai dari 10 SAR (sekitar Rp 43.000). Sangat murah untuk ukuran Kota Madinah.

9. Rumah Makan Warmiendo (Tempat Nongkrong Anak Muda & Gen-Z)

Siapa bilang umrah cuma buat orang tua? Jemaah muda sekarang jumlahnya sangat banyak, dan Warmiendo tahu persis cara memanjakan mereka.

  • Lokasi: Lingkar komersial pejalan kaki di sekitar perimeter Masjid Nabawi.
  • Profil Singkat: Agak beda dengan coffee shop di haramain, tempat kuliner ini mengusung konsep warung kopi tongkrongan khas kampus di Indonesia (Warkop / Warmindo), tempat ini menawarkan pelarian psikologis. Sangat asyik untuk duduk santai ngobrol bareng teman sekamar hotel setelah ibadah yang panjang.
  • Menu Wajib Coba: Lupakan nasi putih. Di sini surganya street food. Pesanlah Mie Nyemek bumbu pekat yang direbus perlahan, Pempek asli Palembang, Tekwan segar, atau Batagor bumbu kacang.
  • Bujet: Bersahabat untuk anak muda, menu ditawarkan mulai dari 18 SAR (sekitar Rp 77 ribuan).

10. Al-Qarat Restaurant (Hidden Gem Buat Pejuang Rasa)

Kalau kamu tipe orang yang rela jalan jauh, berkorban waktu, dan effort demi mendapatkan makanan enak yang spesifik, maka kamu harus ke Al-Qarat.

  • Lokasi: Area Al Iskan, Jalan Prince Mohammed Bin Abdulaziz. Posisinya cukup jauh, sekitar 7,3 km dari pusat Masjid Nabawi (harus naik taksi atau bus).
  • Profil Singkat: Karena lokasinya jauh dari keramaian turis, Al-Qarat mendesain restorannya sebagai destination dining dengan menu yang sangat beragam. Area makannya sangat luas, cocok untuk menampung jemaah yang tinggal (mukimin) atau rombongan katering besar.
  • Menu Wajib Coba: Ini yang luar biasa. Di mana lagi di tengah gurun Arab kamu bisa menyantap Ikan Pesmol bumbu kuning khas Jawa Barat? Mereka juga punya menu Capcay Oriental yang sayurannya dijamin segar, serta rendang sapi otentik.
  • Bujet: Keuntungan lokasi yang jauh adalah harga makanannya yang lebih murah. Rata-rata menu bisa ditebus mulai dari 15 SAR (Rp 64.500) saja. Biaya taksi ke sana akan terbayar lunas dengan kenikmatan rasa masakannya!

📝 Tips Cerdas Wisata Kuliner di Tanah Suci

Sebelum meluncur ke restoran-restoran di atas, ada beberapa hal penting yang harus kamu catat agar pengalaman makanmu makin lancar:

  1. Siapkan Pecahan Uang Kecil (1, 5, 10 Riyal): Meski beberapa restoran menerima Qris atau Rupiah, membayar dengan pecahan kecil Riyal akan sangat memudahkan proses kembalian, terutama saat kondisi sedang antre panjang.
  2. Perhatikan Jam Buka & Waktu Shalat: Di Arab Saudi, hampir semua kegiatan komersial (termasuk restoran) akan tutup sementara selama waktu adzan hingga shalat berjamaah selesai. Hindari datang ke restoran tepat 10 menit sebelum waktu shalat, atau persis setelah jam shalat usai jika kamu tidak ingin antre berdiri hingga 1 jam.
  3. Porsi “Arab” vs Porsi Indonesia: Beberapa restoran menyesuaikan ukurannya menjadi sedikit lebih besar dari porsi normal di Indonesia. Jangan ragu untuk memesan beberapa menu ke tengah meja dan makan dengan cara sharing (berbagi) bersama teman rombongan.
  4. Bertanya pada Muthawif: Kadang-kadang lokasi detail bisa sedikit bergeser karena penertiban kota. Selalu konfirmasi ulang rute terbaik menuju restoran tersebut kepada pembimbing ibadah ( Muthawif ) atau Tour Leader kamu.

Pergi ke Baitullah memang untuk mencari ridha Allah, namun menjaga asupan gizi dan kewarasan lidah dengan menyantap makanan yang familiar juga merupakan ikhtiar untuk menjaga kesehatan fisik selama ibadah.

Kirim atau Share artikel ini ke grup WhatsApp keluarga atau rombongan biro travelmu! Biar nanti saat sampai di Makkah atau Madinah, kalian tidak perlu bingung lagi mau makan siang atau hangout di mana. Selamat menjalankan ibadah Umrah, dan selamat berkuliner ria di Tanah Suci!

Bagikan Artikel Ini 👇