
Sekilas terlihat sama, tetapi ternyata punya asal-usul, teknik memasak, dan cita rasa yang berbeda. Yuk, mengenal tiga hidangan nasi paling populer dari dunia kuliner Arab!
Bagi orang Indonesia yang berkunjung ke Arab Saudi, urusan makan bisa menjadi pengalaman tersendiri. Apalagi ketika memasuki restoran tradisional di Makkah atau Madinah. Alih-alih menemukan nasi kebuli seperti yang biasa kita jumpai di Indonesia, kita justru lebih sering melihat nama kabsah (kabsa) dan mandhi (mandi) terpampang di daftar menu.
Sepintas, ketiganya memang mirip. Nasi berbumbu rempah yang disajikan dalam nampan besar, lengkap dengan potongan ayam atau daging kambing. Aromanya menggoda, porsinya melimpah, dan sering disantap bersama-sama.
Namun, jangan buru-buru menyebut semuanya nasi kebuli. Sebab, di balik tampilannya yang hampir serupa, ketiga hidangan ini memiliki cerita, teknik memasak, dan karakter rasa yang berbeda.
Bahkan, ada fakta menarik: nasi kebuli yang begitu identik dengan makanan Arab di Indonesia ternyata bukan hidangan yang paling dikenal sebagai kuliner khas Arab Saudi.
Kabsa, Nasi Kebanggaan Masyarakat Arab Saudi
Kalau berkunjung ke rumah keluarga Saudi dan dijamu makan siang, besar kemungkinan kita akan berkenalan dengan kabsa atau kabsah. Inilah salah satu hidangan paling populer di Arab Saudi, baik untuk santapan sehari-hari maupun menjamu tamu istimewa.
Kabsa dibuat menggunakan beras basmati yang dimasak bersama kaldu ayam atau daging, tomat, dan berbagai rempah. Di antaranya kapulaga, kayu manis, cengkih, lada hitam, serta jeruk nipis kering yang dikenal sebagai loomi.
Penggunaan tomat dan rempah membuat nasi kabsa sering berwarna kemerahan atau kecokelatan. Rasanya gurih, harum, dengan sedikit sentuhan asam yang khas.
Kabsa lazim disajikan di atas nampan besar untuk disantap bersama-sama. Lauknya bisa berupa ayam, kambing, atau domba, terkadang ditambah kismis dan kacang-kacangan.
Menariknya, meskipun kabsa begitu populer, hidangan nasional Arab Saudi yang ditetapkan secara resmi pada 2023 justru bernama jareesh, makanan tradisional berbahan gandum pecah.
Nasi Mandi, Warisan Kuliner Hadhramaut dari Yaman
Bergeser ke nasi mandi, kita akan menemukan cerita kuliner yang tak kalah menarik. Hidangan ini berasal dari tradisi masyarakat Hadhramaut, Yaman, sebelum menyebar ke Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.
Kalau kabsa terkenal karena perpaduan bumbu dan kaldunya, keistimewaan nasi mandi justru terletak pada teknik memasak dagingnya.
Secara tradisional, mandi dimasak menggunakan tungku khusus dari tanah liat atau lubang di dalam tanah. Daging kambing atau ayam dibumbui, kemudian dimasak perlahan menggunakan panas bara api dalam ruang tertutup.
Dalam salah satu teknik tradisionalnya, daging digantung di bagian atas tungku, sementara nasi berada di bawahnya. Sari dan lemak daging membantu memperkaya rasa nasi. Hasilnya adalah daging empuk dengan aroma panggangan yang khas.
Dibanding kabsa, nasi mandi umumnya memiliki rasa bumbu lebih ringan, dengan warna nasi putih kekuningan atau keemasan. Meski berasal dari Yaman, hidangan ini sangat populer di Arab Saudi, termasuk di berbagai restoran Makkah dan Madinah.
Nasi Kebuli, Jejak Pertemuan Budaya Arab dan Indonesia
Sekarang kita kembali ke Indonesia. Bagi sebagian masyarakat kita, nasi kebuli sudah telanjur menjadi gambaran paling akrab tentang makanan Arab.
Padahal, nasi kebuli yang dikenal di Indonesia memiliki perjalanan sejarahnya sendiri. Hidangan ini berkembang dalam tradisi kuliner masyarakat keturunan Arab, khususnya komunitas Arab-Betawi di Jakarta.
Nasi kebuli mencerminkan pertemuan pengaruh kuliner Timur Tengah, Asia Selatan, dan kebiasaan memasak masyarakat Indonesia.
Dalam resepnya, nasi kebuli menggunakan kaldu daging, minyak samin, serta berbagai rempah seperti kapulaga, kayu manis, cengkih, ketumbar, dan jintan. Sebagian resep juga menggunakan susu atau santan untuk memperkaya rasa.
Hasilnya adalah nasi yang gurih, harum, dan kaya bumbu. Di Indonesia, nasi kebuli sering disajikan bersama daging kambing, acar, emping, dan bawang goreng.
Karena itu, nasi kebuli lebih tepat dipahami sebagai hasil pertemuan budaya kuliner, bukan sekadar salinan hidangan dari Jazirah Arab.
Jadi, Apa Perbedaan Ketiganya?
Kalau ketiga hidangan ini disajikan bersamaan, perbedaannya mungkin tidak langsung terlihat. Namun, ada beberapa petunjuk sederhana.
| Pembeda | Kabsa | Mandi | Kebuli |
|---|---|---|---|
| Identitas | Arab Saudi | Yaman | Arab-Indonesia |
| Ciri khas | Kaldu, tomat, rempah | Daging dimasak dalam tungku | Minyak samin dan rempah kaya |
| Rasa | Gurih, aromatik, sedikit asam | Gurih, ringan, aroma panggangan | Gurih, kaya bumbu |
| Warna nasi | Kemerahan atau kecokelatan | Putih kekuningan | Kuning kecokelatan |
Tentu saja, warna dan rasa tidak bisa dijadikan patokan mutlak. Setiap keluarga, daerah, dan restoran memiliki resep masing-masing.
Mana yang Paling Cocok dengan Lidah Indonesia?
Bagi yang menyukai nasi gurih dengan bumbu kuat, kebuli mungkin terasa paling akrab. Kalau ingin menikmati nasi dengan perpaduan rempah dan sedikit rasa asam, kabsa patut dicoba. Sementara penggemar daging empuk dengan aroma panggangan khas kemungkinan akan menyukai mandi.
Saat berkunjung ke Makkah atau Madinah untuk umrah, sesekali cobalah menikmati kabsa atau mandi di restoran lokal. Selain mengenyangkan, pengalaman tersebut juga menjadi kesempatan mengenal tradisi kuliner masyarakat setempat.
Pada akhirnya, kabsa, mandi, dan kebuli bukan sekadar tiga jenis nasi berbumbu. Ketiganya menyimpan cerita perjalanan budaya, tradisi memasak, dan pertemuan masyarakat lintas wilayah.
Jadi, kalau kamu pernah mencicipi ketiganya, mana yang paling cocok dengan lidahmu: kabsa Saudi, mandi Yaman, atau kebuli Indonesia?
Ikuti HAMIDAH ke MADINAH untuk mengenal lebih dekat kuliner, budaya, dan cerita menarik dari Tanah Suci.