
Setiap hari, para jemaah haji dan umrah bisa menikmati air Zamzam secara gratis di Masjidil Haram. Tinggal mengambil gelas, mendekati dispenser, lalu meminumnya sepuas hati. Ada yang memilih Zamzam dingin, ada pula yang lebih suka air dengan suhu biasa. Semuanya tersedia dengan mudah, seolah-olah persediaannya tidak pernah menjadi masalah.
Namun, pernahkah terbayang bahwa air yang diminum jutaan jemaah itu berasal dari sebuah sumur yang kedalamannya hanya sekitar 30 meter, dengan diameter sekitar 1,5 hingga 2,5 meter? Bagaimana mungkin sebuah sumur yang relatif kecil mampu melayani kebutuhan air dalam jumlah begitu besar?
Ternyata, di balik segelas air Zamzam terdapat perpaduan sejarah panjang, penelitian geologi, dan teknologi modern yang dikelola secara serius oleh pemerintah Arab Saudi.
Sumur Zamzam, Warisan Sejak Zaman Nabi Ismail
Kisah Zamzam bermula ribuan tahun lalu, ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istrinya, Hajar, bersama bayi mereka, Ismail, di lembah Makkah yang saat itu tandus dan tidak berpenghuni.
Ketika persediaan air habis, Hajar berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah untuk mencari pertolongan. Allah kemudian menghadirkan air Zamzam melalui perantaraan Malaikat Jibril. Kisah ini disebutkan dalam hadis panjang riwayat Imam Bukhari.
Sejak saat itu, Zamzam menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Makkah. Sumur tersebut terus dirawat dari generasi ke generasi, termasuk pada masa pemerintahan Arab Saudi modern.
Menariknya, lokasi sumur Zamzam sebenarnya berada di kawasan mataf, tidak jauh dari Ka’bah. Namun, jemaah sekarang tidak lagi bisa melihat atau mengambil air secara langsung dari bibir sumurnya.
Mengapa Sumur Zamzam Sekarang Tidak Terlihat?

Dahulu, air Zamzam diambil menggunakan timba dan tali. Sistem ini mulai berubah ketika Raja Abdulaziz memerintahkan pemasangan pompa air pada 1954, sehingga air zam zam bisa dialirkan menuju tangki penampungan dan keran-keran untuk jemaah.
Pada 1958, pemerintah Saudi melakukan penataan kawasan sumur agar tidak mengganggu aktivitas tawaf. Bangunan sumur ditempatkan di bawah permukaan mataf, sementara sistem pelayanan air dikembangkan secara bertahap.
Menurut Saudipedia, sekitar 12,8 meter bagian sumur merupakan struktur yang dibangun, sedangkan 17,2 meter lainnya berada pada lapisan batuan. Jadi, meskipun sumurnya tidak lagi terlihat oleh jemaah, sumber air bersejarah tersebut tetap berada di tempatnya.
Dari Sumur ke Tangki, Air Zamzam Dialirkan Melalui Pipa Modern
Kini, pengambilan air Zamzam tidak lagi mengandalkan timba. Pemerintah Saudi menggunakan dua pompa besar dengan kapasitas yang dilaporkan mencapai 360 meter kubik per jam. Air kemudian dialirkan melalui jaringan pipa berbahan baja antikarat atau stainless steel sepanjang sekitar empat kilometer, menuju fasilitas penyimpanan dan pengolahan.
Sebelum didistribusikan, air menjalani proses penyaringan, sterilisasi, dan pemeriksaan kualitas. Salah satu teknologi yang digunakan adalah sinar ultraviolet untuk membantu mengendalikan mikroorganisme tanpa menambahkan bahan kimia desinfektan ke dalam air.
Siapa yang Menjaga agar Sumur Zamzam Tetap Lestari?
Pengelolaan Zamzam ternyata tidak sekadar urusan memompa air sebanyak mungkin. Pemerintah Saudi juga harus memperhatikan keseimbangan sumber air bawah tanah yang memasok sumur tersebut. Untuk itulah Saudi Geological Survey mendirikan Zamzam Studies and Research Center pada tahun 2000. Lembaga ini meneliti kondisi geologi, memantau kualitas air, mengawasi volume pemompaan, serta mempelajari pengaruh pembangunan kota Makkah terhadap sumber air Zamzam.
Pusat penelitian tersebut juga menentukan batas pemompaan bulanan dan tahunan berdasarkan kajian hidrogeologi. Dengan begitu, pengambilan air dapat disesuaikan dengan kondisi sumber air dan kebutuhan pelayanan jemaah.
Ini menunjukkan bahwa sekalipun Zamzam memiliki kedudukan istimewa dalam Islam, pemerintah Saudi tetap melakukan upaya ilmiah untuk menjaga kualitas dan kelestariannya.
Dari Sumber Air Bersejarah Menuju Industri Modern
Selama berabad-abad, air Zamzam telah menjadi bagian dari pelayanan bagi tamu-tamu Allah. Kini, pelayanan tersebut didukung jaringan perpipaan, laboratorium, tangki penyimpanan, dan fasilitas pengolahan modern.
Namun, perjalanan air Zamzam ternyata belum berakhir sampai di sini. Pada artikel berikutnya, kita akan mengintip pabrik pengemasan Zamzam yang dikelola National Water Company (NWC), sebuah fasilitas industri modern di Makkah yang memiliki kapasitas produksi hingga 200.000 botol berukuran lima liter setiap hari. Bagaimana mesin-mesinnya bekerja, dan bagaimana kualitas airnya dijaga sebelum sampai ke tangan jemaah?
Kita lanjutkan pada bagian kedua serial ini: Mengintip Pabrik Air Zam Zam Modern di Makkah