Pertama dalam Sejarah! Indonesia Beli Hotel Ribuan Kamar di Makkah

indonesia beli hotel di makkah
Ada kabar menarik dari Tanah Suci. Indonesia kini resmi memiliki hotel sendiri di Kota Makkah, Arab Saudi.
Bukan hotel kecil, melainkan Novotel Thakher Makkah yang memiliki 1.461 kamar dan suite. Bahkan, ke depannya kawasan tersebut direncanakan mampu menampung sekitar 22.000 jemaah haji sekaligus.

Selama ini, pemerintah Indonesia mengandalkan penyewaan hotel di Makkah untuk menyediakan akomodasi bagi jemaah haji setiap tahunnya. Namun, kini Indonesia mulai mengambil langkah berbeda. Melalui Badan Pengelola Investasi Danantara, Indonesia berinvestasi langsung dengan membeli properti perhotelan di Tanah Suci.

Pembelian hotel tersebut telah diselesaikan pada 11 Agustus 2026. Kemudian, pada 18 Oktober 2026, Danantara merampungkan pembelian lahan seluas 4,4 hektare yang akan digunakan untuk pengembangan kawasan.

Hotel Bintang Empat, Berjarak 2,5 Kilometer dari Masjidil Haram

Hotel yang dibeli adalah Novotel Thakher Makkah, sebuah hotel bintang empat yang berada di kawasan Thakher, Kota Makkah. Lokasinya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Masjidil Haram. Artinya, jemaah masih membutuhkan transportasi untuk mencapai kawasan masjid, terutama bagi mereka yang sudah lanjut usia.

Hotel ini memiliki 1.461 kamar dan suite yang tersebar di tiga menara. Berbagai fasilitas pendukung seperti restoran, ruang pertemuan, dan pusat kebugaran juga tersedia. Dengan jumlah kamar sebanyak itu, hotel tersebut sudah memiliki kapasitas akomodasi yang cukup besar. Namun, ternyata pemerintah Indonesia mempunyai rencana yang jauh lebih ambisius.

Bakal Dikembangkan hingga 6.000 Kamar. Bisa Tampung 22.000 Jemaah

Nah, ini bagian yang paling menarik. Danantara tidak berencana berhenti pada pengoperasian hotel yang sudah dibeli. Lahan seluas 4,4 hektare yang terdiri dari 14 bidang tanah di sekitarnya akan dimanfaatkan untuk membangun fasilitas akomodasi tambahan. Menurut rencana pengembangan yang disampaikan Danantara, kawasan Thakher nantinya ditargetkan memiliki sekitar 6.000 kamar secara keseluruhan. Jika target tersebut terwujud, kapasitas akomodasinya diproyeksikan mampu menampung sekitar 22.000 jemaah sekaligus. Jumlah itu setara dengan sekitar 10% dari total jemaah haji Indonesia dalam satu tahun, berdasarkan proyeksi yang digunakan Danantara. Bayangkan, satu kawasan hotel di Makkah nantinya berpotensi menampung puluhan ribu jemaah Indonesia dalam satu periode pelayanan. Tentu saja, angka tersebut masih berupa target pengembangan, bukan kapasitas hotel yang sudah tersedia sekarang. Pembangunannya akan dilakukan secara bertahap dan tetap membutuhkan perizinan dari otoritas Arab Saudi.

Bakal Jadi Bagian dari Kampung Haji Indonesia

Pembelian hotel dan lahan tersebut merupakan bagian dari rencana pengembangan kawasan yang disebut Kompleks Bait Jemaah, sekaligus berkaitan dengan gagasan besar Kampung Haji Indonesia di Makkah. Nantinya, kawasan ini bukan sekadar tempat tidur bagi jemaah. Danantara juga merencanakan pembangunan area pertokoan, fasilitas pelayanan, serta berbagai kebutuhan pendukung ibadah haji dan umrah.

Bahkan, kawasan tersebut berpotensi menjadi tempat untuk memperkenalkan budaya, pelayanan, dan kuliner khas Indonesia kepada pengunjung dari berbagai negara. Pengembangan hotel tambahan sebelumnya direncanakan mulai memasuki tahap operasional pada 2029, meskipun realisasinya masih bergantung pada kemajuan pembangunan dan persetujuan yang diperlukan.

Nilai Investasi Fantastis, Apakah Biaya Haji Bisa Lebih Murah?

Berdasarkan pemberitaan media, nilai keseluruhan investasi properti di kawasan Thakher Makkah diperkirakan mencapai 2 miliar riyal Saudi atau sekitar Rp9,5 triliun. Angka yang tidak kecil, tentu saja. Namun, investasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang. Salah satunya adalah peluang mengurangi ketergantungan terhadap penyewaan hotel setiap musim haji.

Selama ini, biaya akomodasi menjadi salah satu komponen penting dalam penyelenggaraan ibadah haji. Ketika permintaan kamar meningkat, terutama menjelang puncak musim haji, biaya penginapan juga menjadi perhatian pemerintah. Dengan memiliki aset perhotelan sendiri, Indonesia berpeluang memperoleh pengelolaan akomodasi yang lebih stabil. Meski begitu, kepemilikan hotel tidak serta-merta membuat biaya haji langsung turun. Masih ada biaya investasi, operasional, pemeliharaan, serta berbagai kebutuhan lain yang harus diperhitungkan.

Harapannya, Jemaah Indonesia Makin Nyaman

Kepemilikan hotel di Makkah ini menjadi langkah baru dalam perjalanan panjang pelayanan haji Indonesia. Jika selama ini Indonesia lebih banyak berperan sebagai penyewa akomodasi, kini pemerintah mulai membangun kepemilikan aset dan fasilitas pendukung ibadah di Tanah Suci. Apalagi, jumlah jemaah haji dan umrah asal Indonesia termasuk sangat besar setiap tahunnya. Keberadaan akomodasi yang dikelola secara profesional tentu berpotensi memberikan manfaat dalam jangka panjang. Harapannya, proyek besar ini benar-benar dapat meningkatkan kenyamanan, efisiensi, dan kualitas pelayanan jemaah. Karena pada akhirnya, keberhasilan investasi hotel Indonesia di Makkah bukan hanya diukur dari berapa ribu kamar yang berhasil dibangun, tetapi seberapa besar manfaatnya bagi jemaah yang datang untuk beribadah ke Tanah Suci.

Bagikan Artikel Ini 👇