
Jika Anda sedang mempersiapkan perjalanan umrah, mari membayangkan saat kita memasuki pelataran Masjidil Haram. Di hadapan kita berdiri Ka’bah, sementara ribuan orang bergerak mengitarinya. Sebelum bergabung dalam arus tawaf, ada satu tempat yang perlu Anda kenali: sudut Ka’bah tempat Hajar Aswad berada. Dari arah sudut inilah kita memulai putaran, dengan posisi Ka’bah selalu di sebelah kiri kita.
“Apakah nanti kita harus mencium Hajar Aswad?” Pertanyaan seperti ini sangat wajar muncul dari calon jemaah. Kerinduan untuk mendekatinya tentu dapat dipahami. Namun, sebelum memikirkan bagaimana caranya sampai ke sana, mari mengenal dahulu sejarah, keutamaan, dan tuntunan Rasulullah ﷺ. Bekal ini membantu kita menjalani tawaf dengan lebih tenang.
Hajar Aswad terletak di sudut tenggara Ka’bah. Jika melihat foto jarak dekatnya, Anda akan menemukan pecahan-pecahan batu di dalam bingkai perak berbentuk oval. Saudipedia menjelaskan bahwa bagian yang tampak di permukaannya terdiri atas delapan pecahan dengan ukuran berbeda. Jadi, bingkai perak yang terlihat mengilap itu merupakan pelindungnya, bukan batu yang dicium oleh Rasulullah ﷺ.
Hajar Aswad Dulu Berwarna Putih?
Ada fakta yang mungkin mengejutkan Anda: Hajar Aswad dahulu berwarna putih. Dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ menerangkan bahwa batu ini turun dari surga dalam keadaan lebih putih daripada susu, kemudian dosa anak-anak Adam menjadikannya hitam. Riwayat tersebut terdapat dalam Sunan At-Tirmidzi nomor 877 dan dinilai hasan sahih oleh At-Tirmidzi.
Keterangan ini kita terima sebagai berita dari Rasulullah ﷺ. Kita tidak perlu menambahkan cerita tentang energi tertentu, kemampuan menyerap dosa secara fisik, atau teori ilmiah yang belum terbukti. Yang diterangkan hadis sudah cukup menjadi bahan renungan: dosa mempunyai akibat yang semestinya membuat seorang hamba semakin sungguh-sungguh menjaga dirinya.
Ketika membicarakan asal-usulnya, kita juga perlu membedakan keterangan hadis yang dapat dijadikan pegangan dari kisah tambahan yang beredar. Tidak semua cerita mengenai perjalanan Hajar Aswad sejak zaman para nabi mempunyai tingkat kekuatan riwayat yang sama. Untuk bekal umrah, dahulukan pengetahuan yang jelas dalilnya.
Dulu Pernah Dicuri Hingga Keluar dari Masjidil Haram
Perjalanan sejarahnya pun tidak selalu tenang. Menurut catatan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, kelompok Qaramithah menyerang Makkah pada 317 Hijriah. Mereka membunuh jemaah, mencabut Hajar Aswad dari tempatnya, kemudian membawanya pergi. Batu tersebut baru dikembalikan pada 339 Hijriah, setelah sekitar 22 tahun tidak berada di sudut Ka’bah.
Bayangkan, batu yang sekarang ingin didekati begitu banyak jemaah itu pernah dibawa pergi selama lebih dari dua dasawarsa. Peristiwa tersebut merupakan catatan sejarah, sehingga cara menyampaikannya berbeda dari hadis tentang asalnya dari surga. Kita cukup mengambil peristiwa yang tercatat tanpa menambahkan kisah dramatis yang belum diperiksa kebenarannya.
Mengapa Kita Cium Hajar Aswad?
Mungkin Anda bertanya, mengapa kita dianjurkan mencium Hajar Aswad? Mari menyimak perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ketika mendatangi Hajar Aswad dan menciumnya, beliau berkata:
إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
“Sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau hanyalah batu yang tidak dapat mendatangkan bahaya maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Al-Bukhari, no. 1597).
Ucapan Umar ini menjadi bekal penting sebelum kita mendekati Hajar Aswad. Kita menciumnya karena mengikuti Rasulullah ﷺ sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Karena itu, ketika nanti Anda mendapat kesempatan mendekat, hadirkan niat untuk meneladani beliau. Keutamaan batu ini tidak berarti ia mempunyai kekuatan mandiri untuk memberikan keberuntungan, menyembuhkan penyakit, atau mengabulkan permintaan.
Ada pula keutamaan yang berkaitan dengan hari kiamat. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Allah akan membangkitkan Hajar Aswad dengan dua mata dan lisan, lalu ia memberikan kesaksian bagi orang yang mengusapnya dengan benar. Hadis ini diriwayatkan At-Tirmidzi nomor 961 dan dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani. Keutamaan tersebut mengajak kita memperhatikan keikhlasan dan kesesuaian amalan dengan sunnah.
Sekarang, mari kembali ke pelataran tawaf. Ketika sudah sejajar dengan Hajar Aswad, kita mulai bergerak mengitari Ka’bah. Apabila keadaan memungkinkan tanpa menyakiti siapa pun, disunnahkan menyentuh Hajar Aswad dengan tangan kanan dan menciumnya, disertai takbir. Kita melakukannya dengan tenang, mengikuti ruang yang tersedia.
Bagaimana jika tangan dapat menyentuh batunya, tetapi kita tidak bisa menciumnya? Dalam keadaan tersebut, kita boleh menyentuh Hajar Aswad, kemudian mencium tangan yang benar-benar menyentuhnya. Tata cara ini mempunyai dasar dalam hadis sahih riwayat Muslim. Perhatikan bahwa yang dimaksud adalah menyentuh batunya, bukan sekadar menyentuh bingkai peraknya.
Jika tidak bisa mendekat, cukup memberi isyarat ke arah Hajar Aswad sambil mengucapkan “Allahu akbar”, kemudian melanjutkan langkah. Tangan yang hanya dipakai memberi isyarat dari jauh tidak dicium. Isyarat dan takbir ini dilakukan ketika sejajar dengan Hajar Aswad dalam tawaf. Jadi, Anda tetap dapat mengikuti sunnah meskipun berada jauh dari Ka’bah.
Tidak perlu memaksakan diri menerobos kerumunan. Syekh Ibnu Baz menjelaskan bahwa ketika mendekat menimbulkan kesulitan, jamaah diarahkan untuk memberi isyarat. Mencium Hajar Aswad bukan rukun atau syarat sah umrah. Jika kesempatan itu belum tersedia, Anda dapat meneruskan ibadah tanpa merasa umrahnya kurang sah.
Menjelang putaran selesai, kita akan melewati Rukun Yamani sebelum kembali ke Hajar Aswad. Jika mudah dijangkau, sudut ini disunnahkan untuk disentuh dengan tangan kanan, tanpa dicium. Jika tidak dapat menyentuhnya, teruskan perjalanan tanpa memberi isyarat. Tata caranya memang berbeda dengan Hajar Aswad.
Di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, bacalah: “Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar.” Kita memohon kebaikan dunia, kebaikan akhirat, dan perlindungan dari azab neraka. Doa ini diriwayatkan Abu Dawud nomor 1892 dan dinilai hasan oleh Al-Albani. Di bagian tawaf lainnya, Anda dapat berzikir dan memanjatkan doa-doa yang baik; tidak ada bacaan khusus dari Nabi ﷺ yang ditetapkan berbeda untuk setiap putaran.
Setelah tujuh putaran, kerjakan dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim apabila memungkinkan. Jika padat, pilih tempat lain di Masjidil Haram. Hindari berhenti untuk shalat di jalur yang menghalangi orang tawaf. Kita juga tidak dianjurkan mengusap seluruh dinding atau kiswah Ka’bah sebagai ritual mencari keberkahan.
Saat meninggalkan pelataran, mudah-mudahan yang tertinggal dalam ingatan Anda bukan hanya seberapa dekat kita dengan Hajar Aswad. Ada takbir yang diucapkan dengan sadar, doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh, dan langkah yang dijaga agar tidak melukai orang lain. Itulah bekal yang ingin kita bawa sejak persiapan umrah: memahami tuntunan, lalu mengamalkannya sesuai kemampuan.