Raudhah di Masjid Nabawi: Menyusuri Taman Surga, Jejak Rasulullah, dan Cara Mengunjunginya

raudhah masjid nabawi

Di balik karpet hijau Masjid Nabawi, ada sebuah tempat yang membuat jutaan jemaah dari seluruh dunia berharap bisa beribadah di dalamnya, meski hanya beberapa menit. Namanya Raudhah. Apa sebenarnya yang membuat tempat ini begitu istimewa?

Madinah selalu punya cara membuat orang ingin kembali. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan ketika memasuki pelataran Masjid Nabawi, memandang kubah hijau yang begitu ikonik, dan menyaksikan ribuan jemaah dari berbagai penjuru dunia berjalan menuju pintu-pintu masjid. Di tengah suasana itu, sebagian pengunjung memiliki satu harapan khusus yang sudah mereka nantikan sejak sebelum berangkat dari tanah air, yakni mendapatkan kesempatan untuk shalat di Raudhah.

Tempatnya sebenarnya tidak terlalu luas, terlebih jika dibandingkan dengan keseluruhan bangunan Masjid Nabawi yang begitu megah. Tidak ada taman dengan pepohonan rindang, kolam air, ataupun hamparan bunga seperti yang mungkin terbayang ketika mendengar julukan taman surga. Yang terlihat justru karpet hijau, deretan tiang putih berornamen emas, lampu-lampu gantung, serta bagian-bagian bangunan yang menyimpan sejarah panjang kehidupan Rasulullah ﷺ.

Namun, justru di kawasan yang relatif kecil inilah terdapat salah satu tempat paling istimewa di Masjid Nabawi. Rasulullah ﷺ sendiri menyebutnya sebagai taman di antara taman-taman surga. Tak mengherankan apabila banyak jemaah begitu antusias mencari informasi tentang lokasi Raudhah, keutamaannya, dan bagaimana cara mendapatkan izin masuk melalui aplikasi Nusuk.

Raudhah, Taman Surga yang Tidak Berbentuk Taman

Secara bahasa, kata raudhah (روضة) berarti taman atau kebun yang indah. Dalam konteks Masjid Nabawi, istilah ini merujuk pada kawasan yang terletak di antara rumah Rasulullah ﷺ dan mimbar beliau. Keistimewaannya bukan muncul karena keindahan bangunan atau karpet berwarna hijau yang kini menjadi ciri khasnya, melainkan berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ

“Antara rumahku dan mimbarku terdapat sebuah taman di antara taman-taman surga.” (HR. Al-Bukhari no. 1195 dan Muslim no. 1390)

Hadis tersebut menjadi dasar utama keutamaan Raudhah. Bayangkan, dari seluruh kawasan Masjid Nabawi, Rasulullah ﷺ secara khusus menyebut tempat yang berada di antara rumah dan mimbar beliau sebagai salah satu taman surga. Tidak mengherankan jika kaum Muslimin dari berbagai negara berharap dapat melaksanakan shalat dan ibadah di sana ketika berkunjung ke Madinah.

Lantas, mengapa Raudhah disebut sebagai taman surga? Para ulama telah membahas persoalan ini sejak berabad-abad lalu. Imam An-Nawawi dalam penjelasannya terhadap Shahih Muslim menyebutkan beberapa pendapat ulama, di antaranya bahwa Raudhah merupakan tempat yang menjadi sebab seseorang memperoleh rahmat Allah dan jalan menuju surga melalui ibadah yang dilakukan di sana. Ada pula penafsiran yang memahami hadis tersebut secara lebih literal, yakni bahwa kawasan itu benar-benar merupakan salah satu taman surga, dengan hakikat yang hanya diketahui oleh Allah.

Perbedaan penafsiran tersebut tidak mengurangi keistimewaan Raudhah sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih. Meski demikian, umat Islam tetap perlu memahami bahwa keutamaan suatu tempat tidak membenarkan praktik ibadah yang tidak memiliki tuntunan. Misalnya, mengusap-usap tiang dengan keyakinan memperoleh keberkahan khusus, atau meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang hanya mampu diberikan oleh Allah. Beribadah di Raudhah tetap harus mengikuti tuntunan syariat, sebagaimana ketika beribadah di tempat lainnya.

Kembali ke Masa Rasulullah, Ketika Masjid Nabawi Masih Sangat Sederhana

Melihat Masjid Nabawi hari ini, mungkin sulit membayangkan bahwa bangunan megah tersebut dulunya merupakan masjid yang sangat sederhana. Tiang-tiang marmer, ornamen emas, pendingin ruangan, hamparan karpet, dan lampu gantung yang indah tentu belum ada pada masa Rasulullah ﷺ. Ketika beliau tiba di Madinah setelah berhijrah dari Makkah, masjid dibangun menggunakan material yang tersedia saat itu, seperti batu bata tanah liat dan batang pohon kurma sebagai penyangga atap.

Walaupun sederhana, Masjid Nabawi sejak awal mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan kaum Muslimin. Masjid ini bukan hanya digunakan untuk melaksanakan shalat berjemaah, tetapi juga menjadi tempat Rasulullah ﷺ mengajarkan Al-Qur’an, menyampaikan nasihat, menerima tamu, bermusyawarah, dan membina masyarakat Madinah. Banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam berlangsung di kawasan yang kini menjadi salah satu tujuan utama jemaah haji dan umrah dari seluruh dunia.

Di sisi masjid terdapat kamar-kamar sederhana yang menjadi tempat tinggal keluarga Rasulullah ﷺ. Salah satunya adalah kamar Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi yang dikenal sebagai salah seorang periwayat hadis terbanyak dari kalangan sahabat. Kamar inilah yang memiliki hubungan sangat erat dengan sejarah Raudhah, karena rumah Nabi menjadi salah satu penanda batas kawasan yang disebutkan dalam hadis taman surga.

Rumah Aisyah dan Sejarah Makam Rasulullah ﷺ

Pada masa Rasulullah ﷺ, kamar Aisyah berada di sisi Masjid Nabawi dan merupakan tempat tinggal yang terpisah dari ruang utama shalat. Bangunannya jauh dari kesan mewah, sebagaimana kehidupan rumah tangga Rasulullah ﷺ yang dikenal sederhana. Di tempat inilah beliau menjalani sebagian kehidupan bersama keluarganya dan pada akhirnya wafat.

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, beliau dimakamkan di kamar Aisyah. Kemudian, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma juga dimakamkan di tempat tersebut. Seiring perkembangan zaman, Masjid Nabawi mengalami beberapa kali perluasan, termasuk pada masa pemerintahan Bani Umayyah ketika kawasan kamar-kamar di sekitar masjid masuk ke dalam kompleks bangunan yang diperluas.

Perubahan itulah yang menjelaskan mengapa Hujrah Nabawiyah, tempat makam Rasulullah ﷺ berada, kini terlihat sebagai bagian dari kompleks Masjid Nabawi. Namun, penting untuk membedakan antara Hujrah Nabawiyah dan Raudhah. Keduanya berdekatan serta memiliki hubungan sejarah yang sangat erat, tetapi bukan merupakan kawasan yang sama. Raudhah secara khusus merujuk pada area antara rumah dan mimbar Rasulullah ﷺ sebagaimana disebutkan dalam hadis.

Dari Batang Pohon Kurma hingga Mimbar Rasulullah

Selain rumah Nabi, penanda penting lainnya adalah mimbar Rasulullah ﷺ. Pada masa awal, beliau pernah menyampaikan khutbah dengan bersandar pada batang pohon kurma. Ketika jumlah kaum Muslimin semakin bertambah, dibuatlah mimbar agar Rasulullah ﷺ lebih mudah terlihat dan didengar oleh para sahabat yang berkumpul untuk mendengarkan khutbah.

Mimbar tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah dakwah Islam di Madinah. Di sekitarnya, para sahabat dahulu mendengarkan nasihat dan pengajaran langsung dari Rasulullah ﷺ. Tentu saja, mimbar yang dapat dilihat di Masjid Nabawi sekarang bukan lagi mimbar kayu asli dari masa beliau, karena bangunan dan perlengkapan masjid telah mengalami pergantian serta pemugaran selama berabad-abad.

Meski bentuk fisiknya mengalami perubahan, posisi mimbar tetap menjadi petunjuk penting untuk memahami letak Raudhah. Ketika seorang jemaah berdiri di kawasan ini, ia sesungguhnya sedang berada di tempat yang memiliki hubungan begitu dekat dengan aktivitas ibadah dan dakwah Rasulullah ﷺ. Inilah salah satu alasan mengapa sejarah Raudhah terasa begitu menarik untuk ditelusuri, bahkan sebelum membicarakan keutamaannya secara khusus.

Delapan Tiang Bersejarah yang Menyimpan Kisah Para Sahabat

Ada hal menarik yang kerap terlewat dari perhatian pengunjung Raudhah, yaitu keberadaan delapan tiang bersejarah. Sebagian orang mungkin lebih tertarik memperhatikan karpet hijau atau kemegahan ornamen emas di dalam masjid. Padahal, beberapa tiang tersebut menjadi penanda lokasi peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Pada masa Nabi, penyangga bangunan masjid masih menggunakan batang pohon kurma. Tiang-tiang yang kita lihat sekarang tentu bukan lagi material asli dari masa tersebut, sebab Masjid Nabawi telah berkali-kali dibangun ulang dan diperluas. Meskipun demikian, sejumlah lokasi tiang bersejarah tetap dikenal dan dipelihara sebagai bagian dari warisan sejarah masjid.

Salah satu yang paling terkenal adalah Ustuwanah At-Taubah, yang juga dikenal sebagai Tiang Abu Lubabah. Nama ini berkaitan dengan kisah sahabat Abu Lubabah radhiyallahu ‘anhu yang sangat menyesali kesalahannya dan kisah taubatnya dikenal dalam literatur sejarah Islam. Ada pula Ustuwanah Al-Wufud, yang dikaitkan dengan tempat Rasulullah ﷺ menerima rombongan atau delegasi yang datang menemui beliau.

Tiang lainnya adalah Ustuwanah Aisyah, yang disebut dalam sejumlah riwayat tentang lokasi shalat di Masjid Nabawi, serta Ustuwanah Al-Mukhallaqah, yang berkaitan dengan sejarah tempat Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat dan keberadaan batang kurma sebelum dibuatkan mimbar. Masing-masing tiang memiliki cerita yang menarik, meskipun tidak semua riwayat tentang sejarahnya memiliki derajat kekuatan yang sama.

Karena itu, ketika membicarakan tiang-tiang Raudhah, kita perlu membedakan antara catatan sejarah dan ketentuan ibadah. Sebuah tiang bisa saja menjadi penanda peristiwa penting pada masa Nabi, tetapi hal tersebut tidak otomatis berarti ada anjuran untuk melakukan ritual tertentu di dekatnya. Kisah kedelapan tiang ini cukup panjang dan layak dibahas lebih mendalam dalam artikel khusus tentang sejarah dan posisi tiang-tiang Raudhah.

Baca juga: Mengenal 8 Tiang Bersejarah di Raudhah dan Kisah Para Sahabat Nabi.

Di Mana Sebenarnya Letak Raudhah?

Bagi jemaah yang baru pertama kali berkunjung ke Madinah, menemukan lokasi Raudhah mungkin tidak semudah yang dibayangkan. Masjid Nabawi mempunyai kawasan yang sangat luas, dengan banyak pintu, ruang shalat, dan jalur pergerakan jemaah. Apalagi, Raudhah bukanlah taman terbuka yang memiliki papan nama besar seperti tempat wisata pada umumnya.

Raudhah berada di bagian depan Masjid Nabawi, tepatnya di kawasan antara rumah Rasulullah ﷺ dan mimbar beliau. Letaknya berdekatan dengan Hujrah Nabawiyah dan area mihrab. Saat ini, kawasan Raudhah yang digunakan untuk kunjungan jemaah dikenal melalui hamparan karpet hijau yang membedakannya dari sejumlah bagian lain Masjid Nabawi.

Menurut informasi resmi Visit Madinah, area terbuka antara mimbar dan pagar Hujrah Nabawiyah berukuran sekitar 22 meter kali 15 meter, atau sekitar 330 meter persegi. Luas tersebut tergolong kecil apabila dibandingkan dengan keseluruhan kawasan Masjid Nabawi yang dapat menampung jemaah dalam jumlah sangat besar. Karena ukuran yang terbatas itulah pengaturan kunjungan Raudhah menjadi hal penting, terutama pada musim haji, Ramadhan, dan masa liburan ketika jumlah pengunjung meningkat.

Apakah Semua Karpet Hijau Termasuk Raudhah?

Karpet hijau merupakan penanda visual yang membantu pengunjung mengenali kawasan Raudhah sekarang. Namun, batas historis Raudhah pada dasarnya ditentukan oleh posisi rumah Nabi dan mimbar beliau, bukan berdasarkan warna karpet. Hal ini perlu dipahami karena susunan bangunan Masjid Nabawi telah mengalami perubahan cukup besar sejak masa Rasulullah ﷺ hingga sekarang.

Sebagian kawasan historis juga berkaitan dengan area yang kini berada di balik pagar Hujrah Nabawiyah. Oleh sebab itu, memahami batas Raudhah secara tepat memerlukan pengetahuan mengenai tata ruang Masjid Nabawi pada masa Nabi dan perubahan yang terjadi setelah berbagai perluasan. Bagi pencinta sejarah Islam, perbandingan denah masjid lama dan bangunan sekarang merupakan salah satu pembahasan yang sangat menarik untuk dipelajari.

Baca juga: Peta dan Batas Raudhah di Masjid Nabawi: Di Mana Letak Rumah dan Mimbar Nabi?

Mengapa Sekarang Masuk Raudhah Harus Reservasi?

Ada satu perubahan besar dalam pengalaman mengunjungi Raudhah dibandingkan masa lalu, yakni penerapan sistem reservasi digital. Kini, jemaah tidak bisa sekadar datang dan berharap dapat memasuki Raudhah kapan saja. Pengunjung perlu mengikuti pengaturan jadwal dan prosedur yang ditetapkan oleh pengelola Masjid Nabawi melalui layanan resmi pemerintah Arab Saudi.

Alasannya cukup mudah dipahami. Setiap hari, Masjid Nabawi dikunjungi begitu banyak orang dari berbagai negara, sedangkan luas Raudhah relatif terbatas. Jika seluruh pengunjung berusaha masuk pada waktu bersamaan, kepadatan dapat menimbulkan risiko keselamatan dan mengganggu kekhusyukan ibadah. Kondisi tersebut tentu menjadi perhatian penting, terutama bagi jemaah lanjut usia atau mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Karena itulah, pemerintah Arab Saudi menerapkan sistem pengaturan kunjungan melalui aplikasi Nusuk. Melalui layanan ini, jemaah dapat memeriksa jadwal yang tersedia, mengajukan izin, dan mengikuti antrean sesuai ketentuan. Sistem tersebut bertujuan membantu mengatur pergerakan pengunjung sehingga kesempatan beribadah di Raudhah dapat berlangsung lebih tertib.

Bagi jemaah yang baru pertama kali menggunakannya, proses reservasi mungkin terlihat sedikit rumit. Namun, dengan persiapan yang tepat, prosedurnya cukup mudah dipahami. Hal terpenting adalah memastikan aplikasi telah terpasang dan akun sudah siap sebelum waktu kunjungan yang direncanakan.

Panduan Masuk Raudhah Menggunakan Aplikasi Nusuk

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengunduh aplikasi Nusuk melalui toko aplikasi resmi, kemudian membuat akun menggunakan data identitas yang diminta. Sebaiknya proses pendaftaran diselesaikan sebelum tiba di Madinah agar jemaah tidak perlu terburu-buru ketika hendak mencari jadwal kunjungan. Pastikan pula data yang digunakan sesuai dengan dokumen perjalanan.

Setelah berhasil masuk ke aplikasi, cari layanan reservasi shalat di Raudhah. Pilih kategori sesuai jenis kelamin, kemudian periksa tanggal dan jam kunjungan yang tersedia. Apabila menemukan jadwal yang sesuai, lanjutkan proses pemesanan dan simpan informasi izin yang diterbitkan oleh sistem. Ketersediaan jadwal dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga jemaah perlu menyesuaikannya dengan agenda perjalanan selama berada di Madinah.

Pada hari kunjungan, datanglah lebih awal sesuai petunjuk di aplikasi. Panduan Nusuk menganjurkan pengunjung hadir sekitar 30 menit sebelum jadwal dimulai, tetapi lokasi berkumpul dan jalur antrean perlu dipastikan kembali melalui informasi terbaru. Setelah tiba di area yang ditentukan, jemaah biasanya akan diarahkan oleh petugas untuk mengikuti alur pemeriksaan izin dan menunjukkan kode QR ketika diminta.

Perlu diketahui bahwa jadwal kunjungan laki-laki dan perempuan diatur secara terpisah. Selain itu, pintu masuk, jalur antrean, dan mekanisme pemeriksaan dapat disesuaikan oleh pengelola masjid. Karena itu, informasi dari aplikasi dan arahan petugas di lapangan perlu diutamakan dibandingkan panduan perjalanan lama yang beredar di media sosial.

Berapa Lama Jemaah Boleh Berada di Raudhah?

Menurut panduan resmi Nusuk, durasi kunjungan Raudhah sekitar 20 menit, dengan pelaksanaan yang mengikuti pengaturan petugas. Bagi jemaah yang telah lama menantikan kesempatan ini, waktu tersebut mungkin terasa begitu singkat. Apalagi jika perjalanan ke Madinah merupakan pengalaman pertama atau kesempatan yang belum tentu bisa terulang dalam waktu dekat.

Oleh sebab itu, sebaiknya jemaah sudah memahami apa yang ingin dilakukan sebelum memasuki Raudhah. Persiapkan diri untuk shalat dan beribadah dengan tenang, bukan justru menghabiskan sebagian besar waktu untuk mencari posisi terbaik atau sibuk mengambil foto. Dengan persiapan sederhana, waktu kunjungan yang terbatas tetap dapat dimanfaatkan dengan baik.

Baca juga: Cara Daftar dan Masuk Raudhah lewat Nusuk, Lengkap dengan Tips Mengantre.

Sudah Berhasil Masuk Raudhah, Sebaiknya Melakukan Apa?

Setelah mendapatkan izin dan akhirnya berhasil memasuki Raudhah, pertanyaan berikutnya adalah ibadah apa yang sebaiknya dilakukan. Sebagian jemaah mungkin ingin segera melaksanakan shalat sunnah, sementara yang lain sudah menyiapkan berbagai doa untuk keluarga dan orang-orang tercinta. Ada pula yang ingin mengabadikan suasana sebagai kenangan perjalanan ke Madinah.

Pada dasarnya, tidak terdapat ritual khusus Raudhah yang mewajibkan setiap pengunjung membaca surah tertentu, melaksanakan shalat dengan jumlah rakaat tertentu, atau mengikuti urutan amalan tertentu. Yang dianjurkan adalah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk beribadah sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, sambil tetap memperhatikan kondisi sekitar dan hak jemaah lainnya.

Shalat, Berzikir, dan Berdoa

Apabila kondisi memungkinkan, jemaah dapat melaksanakan shalat sunnah di Raudhah. Dua rakaat yang dilakukan dengan tenang tentu lebih baik daripada memaksakan banyak rakaat sambil mengganggu orang lain atau mengabaikan arahan petugas. Perhatikan pula ketentuan waktu pelaksanaan shalat sunnah sebagaimana dijelaskan dalam fikih.

Setelah shalat, waktu yang tersisa dapat digunakan untuk membaca Al-Qur’an, beristighfar, bertahmid, bertasbih, atau membaca zikir yang disyariatkan. Tidak ada kewajiban membaca surah khusus hanya karena seseorang berada di Raudhah. Demikian pula ketika berdoa, jemaah boleh memohon berbagai kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, maupun kaum Muslimin secara umum.

Meski demikian, ada satu anggapan populer yang perlu diluruskan, yakni keyakinan bahwa semua doa yang dipanjatkan di Raudhah pasti dikabulkan secara otomatis. Keutamaan Raudhah memang disebutkan dalam hadis sahih, tetapi klaim adanya jaminan khusus bahwa setiap doa di sana pasti dikabulkan memerlukan dalil tersendiri. Karena itu, yang semestinya kita lakukan adalah berdoa dengan ikhlas, penuh harap, serta menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Jangan Sampai Keinginan Beribadah Mengganggu Orang Lain

Ketika berada di tempat istimewa, terkadang seseorang begitu bersemangat untuk mendapatkan posisi yang dianggap paling utama. Namun, semangat beribadah tidak boleh membuat kita melupakan adab terhadap sesama Muslim. Mendorong jemaah lain, berebut tempat secara berlebihan, atau menolak mengikuti arahan petugas tentu bukan sikap yang patut dilakukan di dalam masjid.

Raudhah merupakan tempat yang mempunyai keutamaan, tetapi keselamatan dan kenyamanan sesama pengunjung tetap harus dijaga. Jika petugas telah meminta jemaah mengakhiri kunjungan, sebaiknya instruksi tersebut dipatuhi agar pengunjung lain memperoleh kesempatan yang sama. Menjaga ketertiban dan tidak menyakiti sesama Muslim merupakan bagian penting dari akhlak yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Baca juga: Amalan dan Adab di Raudhah Menurut Hadis Sahih dan Penjelasan Ulama.

Benarkah Pahala Shalat di Raudhah Lebih Besar?

Keutamaan shalat di Masjid Nabawi telah dijelaskan dalam hadis sahih. Rasulullah ﷺ menyebut bahwa satu shalat di masjid beliau lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram. Hadis tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kaum Muslimin begitu bersemangat memperbanyak ibadah selama berada di Madinah.

Lantas, apakah shalat di Raudhah mempunyai kelipatan pahala yang lebih besar daripada shalat di bagian lain Masjid Nabawi? Sepanjang dalil sahih yang diketahui, tidak ada ketentuan khusus yang menetapkan jumlah pahala tambahan untuk shalat di Raudhah dibandingkan bagian masjid lainnya. Keutamaan shalat di Masjid Nabawi berlaku secara umum, sedangkan Raudhah mempunyai kemuliaan tersendiri sebagai kawasan yang disebut Rasulullah ﷺ dalam hadis taman surga.

Pemahaman ini penting agar jemaah tidak meremehkan kesempatan shalat di bagian Masjid Nabawi yang lain. Seseorang yang tidak memperoleh jadwal Raudhah tetap dapat melaksanakan shalat berjemaah dan mendapatkan keutamaan ibadah di Masjid Nabawi. Karena itu, keinginan untuk memasuki Raudhah hendaknya tidak sampai membuat seseorang melewatkan shalat berjemaah atau mengganggu ibadah orang lain.

Bagaimana Jika Tidak Mendapatkan Jadwal Masuk Raudhah?

Tidak semua jemaah yang datang ke Madinah berhasil memperoleh jadwal kunjungan Raudhah. Ada yang berkali-kali memeriksa aplikasi tetapi belum menemukan slot tersedia, ada pula yang jadwalnya berbenturan dengan kepulangan ke tanah air. Bagi mereka yang baru pertama kali mengunjungi Masjid Nabawi, kondisi seperti ini tentu bisa menimbulkan rasa kecewa.

Namun, perlu diingat bahwa mengunjungi Raudhah bukan rukun, syarat, ataupun kewajiban dalam ibadah umrah. Bahkan, perjalanan ke Madinah sendiri bukan bagian dari rangkaian manasik yang menentukan sah atau tidaknya umrah seseorang. Dengan demikian, tidak berhasil memasuki Raudhah sama sekali tidak mengurangi keabsahan ibadah umrah yang telah dilaksanakan.

Masjid Nabawi juga mempunyai keutamaan yang begitu besar secara keseluruhan. Jemaah tetap dapat melaksanakan shalat berjemaah, membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian, berzikir, dan menikmati kesempatan beribadah di salah satu masjid paling mulia dalam Islam. Kalau pun belum memperoleh kesempatan berkunjung ke Raudhah kali ini, semoga Allah memberikan kemudahan pada perjalanan berikutnya.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Raudhah

Apakah Raudhah merupakan bagian dari makam Rasulullah ﷺ?

Tidak. Raudhah merupakan kawasan antara rumah Nabi dan mimbar beliau, sedangkan makam Rasulullah ﷺ berada di Hujrah Nabawiyah, yaitu kamar Aisyah radhiyallahu ‘anha. Keduanya berdekatan, tetapi merupakan lokasi yang berbeda.

Apakah masuk Raudhah harus membayar?

Reservasi izin kunjungan Raudhah melalui layanan resmi Nusuk tidak dipungut biaya. Jemaah sebaiknya menggunakan aplikasi resmi dan berhati-hati terhadap pihak yang menawarkan izin masuk dengan biaya tambahan tanpa dasar yang jelas.

Apakah perempuan boleh masuk Raudhah?

Boleh. Pengelola Masjid Nabawi menyediakan pengaturan jadwal tersendiri bagi pengunjung laki-laki dan perempuan. Waktu kunjungan perlu diperiksa melalui aplikasi Nusuk karena dapat berubah mengikuti kondisi operasional.

Apakah harus menggunakan Nusuk untuk shalat di Masjid Nabawi?

Tidak. Reservasi melalui Nusuk berlaku untuk kunjungan Raudhah sesuai ketentuan yang berlaku, bukan untuk seluruh aktivitas shalat di Masjid Nabawi. Jemaah tetap dapat memasuki Masjid Nabawi dan melaksanakan shalat tanpa memiliki izin kunjungan Raudhah.

Apakah semua karpet hijau di Masjid Nabawi termasuk Raudhah?

Karpet hijau digunakan untuk membantu mengenali kawasan Raudhah yang dikelola untuk kunjungan. Namun, batas historis Raudhah tetap merujuk pada kawasan antara rumah dan mimbar Rasulullah ﷺ sebagaimana disebutkan dalam hadis, bukan semata-mata berdasarkan warna karpet.

Raudhah, Tempat Kecil dengan Sejarah yang Begitu Besar

Ketika membicarakan Raudhah, perhatian kita mungkin lebih dahulu tertuju pada cara mendapatkan jadwal Nusuk, pintu masuk yang harus dilewati, atau berapa lama waktu yang diberikan untuk shalat di sana. Informasi tersebut memang penting, terutama bagi jemaah yang sedang mempersiapkan perjalanan umrah. Namun, setelah mengenal sejarahnya, kita akan menyadari bahwa Raudhah menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada pengalaman mengunjungi sebuah tempat yang terkenal.

Di kawasan yang tidak terlalu luas ini, tersimpan jejak kehidupan Rasulullah ﷺ, mulai dari rumah beliau yang sederhana hingga mimbar tempat beliau menyampaikan khutbah kepada para sahabat. Tiang-tiang bersejarah yang masih dikenal hingga sekarang juga mengingatkan kita kepada berbagai peristiwa pada masa awal Islam. Meski bangunan Masjid Nabawi telah berubah begitu megah selama lebih dari empat belas abad, nilai sejarah dan keutamaan kawasan Raudhah tetap menjadi bagian penting dari perjalanan kaum Muslimin ke Madinah.

Jika suatu hari Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk shalat di Raudhah, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Beribadahlah dengan tenang, hormati sesama jemaah, dan jadikan kunjungan tersebut sebagai kesempatan untuk semakin mengenal kehidupan Rasulullah ﷺ. Namun, jika kesempatan itu belum datang, jangan berkecil hati, sebab Masjid Nabawi secara keseluruhan tetap merupakan tempat yang memiliki keutamaan besar.

Pada akhirnya, kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ tidak hanya diukur dari seberapa dekat kita pernah berada dengan rumah atau mimbar beliau. Kecintaan yang sesungguhnya juga tercermin dari kesungguhan mempelajari hadis, meneladani akhlak, dan mengamalkan sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari. Semoga perjalanan ke Madinah tidak sekadar meninggalkan kenangan indah, tetapi juga membawa pulang semangat baru untuk menjadi Muslim yang lebih baik.


Referensi

  1. Shahih Al-Bukhari, hadis no. 1195, tentang keutamaan Raudhah.
  2. Shahih Muslim, hadis no. 1390, tentang Raudhah sebagai taman di antara taman-taman surga.
  3. Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, pembahasan hadis keutamaan Raudhah.
  4. Visit Madinah, informasi sejarah dan lokasi Raudhah.
  5. Saudi Press Agency, publikasi mengenai sejarah Masjid Nabawi dan tiang-tiang Raudhah.
  6. Nusuk, panduan reservasi dan kunjungan Raudhah: https://www.nusuk.sa/rawdah/

Bagikan Artikel Ini 👇