
Pernah nggak sih kamu ketemu jemaah yang pulang umrah, tapi pas ditanya pengalamannya, ceritanya lebih banyak soal berburu gamis murah atau serunya belanja cokelat kerikil? Wajar sih, namanya juga jalan-jalan ke luar negeri. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sayang banget nggak sih kalau sudah keluar puluhan juta rupiah, fisik capek naik pesawat berjam-jam, tapi aktivitas kita di sana cuma sekadar memindahkan rutinitas ibadah harian dari rumah ke Tanah Suci?
Ibadah umrah itu jauh lebih berharga daripada sekadar pindah lokasi shalat lima waktu. Di Makkah dan Madinah, Allah SWT menyediakan “menu ibadah eksklusif” yang masa berlakunya otomatis hangus begitu roda pesawat mendarat kembali di Bandara Soekarno-Hatta atau Juanda.
Biar perjalanan ibadahmu nggak berlalu begitu saja, yuk kita bedah tuntas apa saja amalan istimewa di Haramain yang mustahil kamu kerjakan di Indonesia!
Sebenarnya, Apa Sih yang Dimaksud “Amalan Khusus Haramain”?
Dalam ilmu fiqih, ada ibadah yang sifatnya mutlak dan bisa dikerjakan di mana saja, seperti shalat fardhu, puasa, dzikir, atau sedekah. Namun, ada juga amalan yang status sah atau fadhilah (keutamaan) besarnya terikat langsung dengan tempat tertentu (makan).
Nah, kota Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah disebut sebagai Haramain (Dua Tanah Suci) karena punya batas kesucian dan kemuliaan wilayah yang tidak dimiliki sudut bumi mana pun. Amalan khusus Haramain adalah ibadah-ibadah yang memang hanya disyariatkan di titik-titik istimewa tersebut. Begitu kamu pulang ke Tanah Air, amalan-amalan ini tidak bisa digantikan atau ditiru di masjid mana pun di Indonesia, semegah apa pun bangunannya.
Berikut adalah 11 amalan istimewa yang wajib masuk ke dalam target harian ibadahmu selama berada di Tanah Suci:
1. Thawaf Sunnah di Sekitar Ka’bah
Di Indonesia, kamu bisa shalat tahiyyatul masjid setiap kali masuk masjid. Namun, begitu kakimu menginjak pelataran Masjidil Haram, “salam penghormatan” terbaik adalah thawaf. Thawaf sunnah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran berlawanan arah jarum jam adalah ibadah paling eksklusif di muka bumi. Amalan ini tidak mengenal kata libur dan hanya sah dikerjakan mengitari Ka’bah yang asli di Makkah. Luangkan waktu di sela jam shalat, terutama saat cuaca sejuk di sepertiga malam terakhir, untuk memperbanyak thawaf sunnah tanpa pakaian ihram.
2. Istilam Hajar Aswad Tanpa Harus Berebut
Mencium atau menyentuh (istilam) Hajar Aswad memang punya nilai keutamaan besar karena batu ini berasal dari surga dan menjadi saksi di hari kiamat. Tapi ingat, menciumnya itu sunnah, sementara menyakiti atau menyikut sesama muslim hukumnya haram. Kalau kondisi di dekat Ka’bah sedang sangat padat dan tidak memungkinkan untuk mendekat, kamu cukup melakukan istilam dari kejauhan: luruskan badan menghadap garis Hajar Aswad, angkat tangan kanan sambil mengucap “Bismillahi Allahu Akbar”, lalu lanjutkan thawafmu dengan tenang. Ibadah santai, pahala tetap dapat, dan hati jauh lebih lapang.
3. Mengusap Rukun Yamani
Banyak jemaah terlalu fokus berebut ke arah Hajar Aswad sampai lupa bahwa sudut sebelumnya, yaitu Rukun Yamani, punya sunnah yang luar biasa. Berdasarkan riwayat shahih, Rasulullah ﷺ selalu menyentuh atau mengusap Rukun Yamani dengan tangan kanan saat thawaf tanpa menciumnya. Di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad inilah tempat terbaik membaca doa sapu jagat: “Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar”. Jangan lewatkan sudut berkah ini di setiap putaran thawafmu!
4. Dua Rakaat Setelah Thawaf di Belakang Maqam Ibrahim
Setelah rampung menyelesaikan tujuh putaran thawaf, segeralah melangkah menuju area di belakang Maqam Ibrahim untuk mendirikan shalat sunnah dua rakaat. Maqam Ibrahim di sini bukan kuburan Nabi Ibrahim ya, melainkan batu pijakan beliau saat membangun Ka’bah. Pada rakaat pertama sunnah membaca Surat Al-Kafirun dan rakaat kedua membaca Surat Al-Ikhlas. Kalau area pas di belakang batu Maqam sedang sangat padat jemaah thawaf, kamu boleh mundur lurus ke belakang di area mana pun di dalam Masjidil Haram.
5. Sa’i antara Shafa dan Marwah
Berjalan dan berlari-lari kecil bolak-balik sebanyak tujuh kali antara Bukit Shafa dan Marwah adalah napak tilas perjuangan Ibunda Hajar saat mencari air untuk Nabi Ismail ‘alaihissalam. Amalan ini menjadi rukun wajib saat kamu menunaikan manasik umrah. Di luar rangkaian umrah, sa’i memang tidak berdiri sendiri sebagai ibadah sunnah harian. Karena itu, saat kamu memakai kain ihram dan menjalankan sa’i, resapi setiap langkahnya dari Shafa ke Marwah sebagai simbol ikhtiar hidup dan kepasrahan total kepada Allah.
6. Memaksimalkan Shalat di Masjidil Haram (100.000 Kali Lipat)
Pernah ngitung hitungan matematis pahala shalat di Masjidil Haram? Satu kali shalat fardhu di sini nilainya setara dengan 100.000 kali shalat di masjid biasa di Indonesia. Bayangkan, satu hari shalat berjamaah penuh di Masjidil Haram setara dengan beribadah lebih dari ratusan tahun! Jangan biarkan godaan rasa malas atau kasur hotel yang empuk bikin kamu telat shalat berjamaah di masjid. Usahakan berangkat 30 sampai 45 menit sebelum adzan agar dapat shaf terbaik.
7. Memaksimalkan Shalat di Masjid Nabawi (1.000 Kali Lipat)
Saat giliran kamu tinggal di kota Madinah, keistimewaannya juga nggak kalah dahsyat. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa satu shalat di Masjid Nabawi lebih baik daripada 1.000 shalat di masjid lainnya, selain Masjidil Haram. Suasana masjid dengan payung-payung raksasanya yang teduh bikin ibadah terasa adem dan damai di hati. Jadikan setiap shalat fardhu dan shalat jenazah di sini sebagai momen mendulang pahala tanpa batas.
8. Shalat dan Menumpahkan Curhat di Raudhah
Di dalam Masjid Nabawi, ada satu area berkarpet hijau seluas area antara rumah Nabi dengan mimbar beliau yang disebut Raudhah (Raudhatul Jannah / Taman Surga). Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa tempat ini adalah salah satu taman surga di dunia dan tempat yang sangat mustajab untuk berdoa. Karena kuota masuk Raudhah saat ini diatur ketat lewat tasrih di aplikasi Nusuk, begitu jadwal giliranmu tiba, manfaatkan beberapa menit berhargamu untuk shalat sunnah, sujud lama-lama, dan tumpahkan semua doa terbaikmu untuk dunia dan akhirat.
9. Memberikan Salam Langsung kepada Nabi ﷺ dan Sahabat
Berdiri langsung di hadapan makam manusia paling mulia di muka bumi adalah momen spiritual yang bikin merinding haru. Saat kamu melintasi makam Rasulullah ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, sampaikanlah salam dengan suara lirih, santun, dan penuh penghormatan: “Assalamu’alaika ya Rasulullah…”. Ibadah salam secara tatap muka fisik seperti ini adalah anugerah yang cuma bisa dirasakan oleh mereka yang diundang datang ke Madinah.
10. Berwudhu dari Hotel Lalu Shalat di Masjid Quba
Ini rahasia “paket hemat” pahala luar biasa yang sering diremehkan jemaah. Nabi ﷺ bersabda bahwa siapa saja yang bersuci (berwudhu) dari rumah atau tempat tinggalnya (termasuk kamar hotelmu), lalu datang ke Masjid Quba dan mendirikan shalat dua rakaat di dalamnya, maka ia mendapat pahala seperti pahala menunaikan ibadah umrah. Keren banget, kan? Kuncinya ada pada adabnya: ambil wudhu dari kamar hotel sebelum naik bus ziarah, lalu tunaikan shalat sunnah di masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam ini.
11. Ziarah Makam Baqi’ dan Syuhada Uhud Sesuai Sunnah
Saat berada di Madinah, sempatkan ziarah ke Pemakaman Baqi’ yang berada persis di sebelah timur Masjid Nabawi, serta Makam Syuhada Uhud di kaki Jabal Uhud tempat paman Nabi, Hamzah radhiyallahu ‘anhu, dimakamkan. Lakukan ziarah kubur sesuai sunnah murni: ucapkan salam kepada penghuni kubur kaum mukminin dan doakan ampunan bagi mereka. Ziarah ini bukan untuk meminta berkah ke batu nisan, melainkan pengingat paling jujur bahwa kita semua pada akhirnya akan kembali ke tanah liat yang sama.
Tempat Bersejarah Bukan Otomatis Tempat Ibadah
Satu catatan penting yang wajib dipahami setiap jemaah cerdas: tempat bersejarah tidak otomatis menjadi tempat ritual ibadah baru.
Sering kita jumpai rombongan jemaah yang mengelus-elus tugu di Jabal Rahmah, berebut mengambil kerikil dari Gua Hira, atau shalat khusus di Bukit Uhud dengan anggapan tempat tersebut punya kesaktian. Ini keliru secara tuntunan fiqih.
Kita berkunjung ke tempat-tempat sejarah untuk merenungi perjuangan dakwah Nabi, belajar keteguhan para sahabat, dan mengambil ibrah (pelajaran hidup). Namun untuk urusan ibadah ritual, shalat, dzikir, dan sujud, pusatkan seluruh energimu di tempat yang jelas dalilnya: pelataran Ka’bah, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Raudhah, dan Masjid Quba.
Real Talk: Jangan Sampai Waktu Emas Habis Buat Berburu Gamis
Jujur saja, suasana belanja di sekitar pelataran Haramain memang menggoda. Dari toko abaya, deretan minyak wangi kasturi, sampai minimarket Bin Dawood yang serba lengkap, semuanya seolah memanggil untuk dijelajahi. Belanja oleh-oleh untuk keluarga di Tanah Air tentu boleh dan bernilai sedekah yang menyenangkan hati orang lain.
Tapi jangan sampai prioritasmu terbalik! Ada jemaah yang bakda Maghrib bukannya iktikaf membaca Al-Qur’an di pelataran Ka’bah, malah buru-buru keluar mengejar diskonan pasar seng sampai ketinggalan shalat Isya berjamaah. Ingat, kurma ajwa dan sajadah Turki bisa kamu beli secara online di Indonesia lewat website hamidah.id kapan saja setelah kamu pulang. Tapi thawaf sunnah di samping Ka’bah atau shalat di Raudhah? Belum tentu kamu punya kesempatan kembali lagi ke sana dalam waktu dekat.
Checklist Amalan Sebelum Meninggalkan Makkah dan Madinah
Biar nggak ada penyesalan saat mengepak koper pulang, jadikan daftar ringkas ini sebagai panduan harianmu:
- [ ] Sudahkah thawaf sunnah minimal 1 kali di luar thawaf rukun umrah?
- [ ] Sudahkah meneguk air zamzam sampai kenyang sambil menghadap Ka’bah dan berdoa?
- [ ] Sudahkah shalat di belakang Maqam Ibrahim dan sujud khusyuk di Hijr Ismail?
- [ ] Sudahkah menyapa dan mengucap salam di makam Rasulullah ﷺ dengan adab terbaik?
- [ ] Sudahkah shalat di Raudhah sesuai jadwal tasrih aplikasi Nusuk?
- [ ] Sudahkah wudhu dari hotel lalu shalat sunnah dua rakaat di Masjid Quba?
- [ ] Sudahkah mendoakan para sahabat di pemakaman Baqi’ dan Syuhada Uhud?
- [ ] Sudahkah menuntaskan Thawaf Wada’ sebelum beranjak menuju bandara kepulangan?
Penutup: Manfaatkan Selagi Kaki Masih Menginjak Tanah Haram
Waktu 9 hingga 12 hari di Tanah Suci itu bakal berlalu secepat kedipan mata. Rasanya baru kemarin koper masuk bagasi bandara, eh tahu-tahu kamu sudah harus duduk di kursi pesawat untuk perjalanan pulang menuju Tanah Air.
Begitu pesawatmu lepas landas dari Bandara Jeddah atau Madinah, semua pintu kemudahan fadhilah 100.000 kali lipat pahala dan pemandangan megah Ka’bah resmi tertutup di belakangmu. Kamu nggak akan bisa lagi melangkah beberapa meter dari kamar untuk thawaf atau duduk santai memandangi kubah hijau Masjid Nabawi.
Mumpung kamu masih berada di sana, atau sedang mempersiapkan keberangkatan dalam waktu dekat, pasang niat kuat-kuat. Kurangi rebahan yang tidak perlu, batasi waktu scrolling media sosial, dan fokus habis-habisan memburu 11 amalan istimewa ini. Pulanglah ke Indonesia bukan hanya membawa koper yang penuh dengan kurma dan suvenir, melainkan membawa jiwa yang baru, hati yang bersih, dan catatan amal yang berlipat ganda berkahnya. Selamat menunaikan ibadah umrah, semoga mabrur!