Mushaf Al-Qur’an Madinah Sebagai Oleh-Oleh. Memangnya Beda?

mushaf madinah oleh oleh

Pulang umroh biasanya identik dengan koper yang penuh oleh-oleh. Ada kurma, cokelat, kacang Arab, parfum, sajadah, tasbih, sampai berbagai makanan khas Timur Tengah. Beberapa minggu kemudian, kurma mulai habis. Cokelat sudah dibagikan ke saudara. Parfum perlahan berkurang. Tapi ada satu oleh-oleh yang bisa tetap berada di rumah selama bertahun-tahun: Mushaf Al-Qur’an Madinah.

Bahkan semakin sering dibuka dan digunakan, justru semakin terasa manfaatnya.

Itulah sebabnya Mushaf Madinah cukup menarik dijadikan oleh-oleh umroh dari Madinah. Bukan sekadar karena dibawa dari Arab Saudi, tetapi karena hadiah tersebut bisa menemani seseorang membaca Al-Qur’an jauh setelah perjalanan umroh selesai.

“Saya Bawakan Al-Qur’an dari Madinah untukmu”

Ada rasa yang berbeda ketika memberikan mushaf sebagai buah tangan Bayangkan seseorang pulang dari Madinah lalu memberikan sebuah mushaf kepada ayah, ibu, anak, guru mengaji atau sahabat sambil berkata:

“Ini saya bawakan Al-Qur’an dari Madinah.”

Sederhana, tetapi cukup berkesan.

Tentu bukan berarti sebuah mushaf otomatis memiliki keistimewaan tertentu hanya karena dibeli di Madinah. Yang membuatnya bernilai adalah Al-Qur’an yang dibaca dan diamalkan, bukan semata-mata lokasi tempat membelinya. Namun sebagai oleh-oleh, Mushaf Madinah memiliki cerita perjalanan yang menarik.

Sebenarnya, Apa Itu Mushaf Madinah?

Di Indonesia, istilah “Mushaf Madinah” cukup luas penggunaannya. Ada mushaf yang benar-benar diterbitkan oleh King Fahd Glorious Qur’an Printing Complex di Madinah. Ada pula mushaf terbitan penerbit lain yang menggunakan gaya tulisan, susunan halaman atau rasm yang menyerupai mushaf yang umum digunakan di Arab Saudi.

Jadi jangan langsung menganggap semua produk bertuliskan “Mushaf Madinah” pasti dicetak langsung di Madinah. Kalau memang ingin mendapatkan mushaf tertentu, terutama sebagai oleh-oleh khusus, tidak ada salahnya melihat informasi penerbit, asal cetakan dan spesifikasinya terlebih dahulu.

Dari Madinah Menuju Muslim di Berbagai Penjuru Dunia

Nama Mushaf Madinah juga erat kaitannya dengan Kompleks Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd di Madinah. Kompleks ini menjadi salah satu pusat besar pencetakan dan distribusi Al-Qur’an. Tidak hanya mushaf berbahasa Arab, tetapi juga berbagai terjemahan makna Al-Qur’an dalam banyak bahasa.

Karena itulah Madinah tidak hanya dikenal sebagai kota tujuan jamaah umroh dan tempat Masjid Nabawi berada. Kota ini juga memiliki hubungan yang sangat kuat dengan penyebaran mushaf Al-Qur’an ke berbagai negara. Hal tersebut membuat membawa sebuah mushaf dari Madinah mempunyai cerita tersendiri.

Kenapa Membaca Mushaf Madinah Terasa Familiar?

Bagi jamaah yang selama berada di Arab Saudi sering membaca Al-Qur’an, tampilan Mushaf Madinah biasanya cepat terasa familiar. Bentuk tulisan, susunan ayat dan tata letak halaman membuat pembaca terbiasa secara visual. Ketika mushaf tersebut kembali dibuka setelah pulang ke Indonesia, kadang muncul memori kecil tentang perjalanan umroh. Mungkin teringat membaca Al-Qur’an setelah Subuh. Menunggu waktu shalat. Duduk di masjid sambil membuka beberapa halaman. Atau sekadar membaca di kamar hotel ketika ada waktu luang. Akhirnya mushaf tersebut bukan hanya menjadi buku di rak, tetapi juga menyimpan kenangan perjalanan.

Kok Tanda Waqafnya Berbeda dengan Mushaf di Indonesia?

Nah, bagian ini kadang membuat pembaca sedikit bingung. Ketika Mushaf Madinah dibandingkan dengan mushaf standar Indonesia, kita bisa menemukan beberapa perbedaan dalam tanda waqaf atau penandaan bacaan. Hal tersebut bukan berarti salah satunya salah cetak.

Dalam penerbitan mushaf terdapat sistem penandaan dan pendekatan tertentu yang digunakan oleh masing-masing standar mushaf. Karena itu, orang Indonesia yang terbiasa membaca mushaf terbitan lokal mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian ketika pertama kali menggunakan Mushaf Madinah. Justru ini bisa menjadi pengalaman menarik bagi orang yang senang mempelajari Al-Qur’an lebih jauh.

Jangan Pilih Mushaf Hanya Karena Cover-nya Bagus

Kalau tujuan membeli Mushaf Madinah adalah sebagai oleh-oleh, sebaiknya jangan hanya melihat desain sampul. Pikirkan dulu: siapa yang akan menerima mushaf tersebut? Untuk orang tua, misalnya, ukuran huruf yang lebih besar biasanya lebih nyaman dibaca. Untuk anak muda atau orang yang sering bepergian, ukuran sedang atau lebih ringkas bisa menjadi pilihan.

Untuk guru mengaji atau seseorang yang rutin membaca Al-Qur’an di rumah, mushaf ukuran standar mungkin justru lebih nyaman digunakan setiap hari. Artinya, mushaf terbaik bukan selalu yang paling mewah. Yang lebih penting adalah mushaf tersebut benar-benar nyaman dibaca oleh penerimanya.

Mau Bawa Banyak Mushaf? Ingat Berat Koper!

Ada satu masalah praktis yang sering baru terasa ketika sedang packing: mushaf lumayan berat. Satu mushaf mungkin tidak terasa. Tapi kalau membawa lima, sepuluh, apalagi belasan mushaf, berat koper bisa meningkat cukup banyak. Karena itu sebaiknya tentukan sejak awal siapa saja yang memang ingin diberi mushaf. Tidak harus semua saudara mendapatkan barang yang sama.

Mushaf bisa diberikan kepada orang-orang tertentu, sementara keluarga lainnya mendapatkan oleh-oleh seperti kurma, sajadah, parfum atau makanan khas Arab Saudi. Selain lebih praktis, pembagian oleh-oleh juga terasa lebih personal.

Haruskah Membeli Mushaf Langsung di Madinah?

Tidak harus. Kalau sedang berada di Madinah, membeli mushaf di sana tentu memiliki pengalaman tersendiri. Apalagi jika niatnya memang membawa sebuah kenang-kenangan dari perjalanan umroh. Namun kalau keterbatasan bagasi menjadi masalah, sekarang cukup banyak pilihan Mushaf Madinah maupun mushaf dengan gaya serupa yang tersedia di Indonesia. Jadi tidak perlu memaksakan membawa terlalu banyak mushaf dari Arab Saudi hanya demi mengejar jumlah oleh-oleh. Lebih baik beberapa mushaf benar-benar diberikan kepada orang yang kemungkinan besar akan membacanya.

Oleh-Oleh yang Justru Semakin Indah Ketika Mulai Usang

Coba bayangkan mushaf yang dibawa pulang dari Madinah tersebut lima atau sepuluh tahun kemudian. Cover-nya mungkin sudah tidak semulus dulu. Sudut halamannya mulai terlihat sering disentuh. Pembatas bukunya sudah berpindah berkali-kali. Beberapa halaman mungkin menjadi bagian yang paling sering dibuka. Justru di situlah mushaf tersebut menjadi semakin berharga. Karena tujuan sebuah mushaf bukan untuk terus terlihat baru di dalam lemari. Ia dibuat untuk dibuka, dibaca dan dipelajari.

Dan mungkin itulah yang membuat Mushaf Al-Qur’an Madinah menjadi salah satu oleh-oleh umroh yang berbeda. Kurma bisa habis. Cokelat bisa habis. Parfum suatu saat juga habis. Tetapi sebuah mushaf yang terus dibaca bisa menemani pemiliknya selama bertahun-tahun setelah perjalanan ke Madinah tinggal menjadi kenangan.

Bagikan Artikel Ini 👇